HIJAB WUJUD

Firman Allah :

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. ( QS 2 : 34 ).

Melalui firman ini, Allah ingin menegaskan kepada kita tentang posisioning manusia sebagai khalifahNya, sehingga Dia memerintahkan kepada malaikat supaya bersujud kepada Adam sebagai cikal bakal umat manusia. Para ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan sujud di sini adalah menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

Mari kita coba menyelisik firman ini dengan memahaminya dari kata-kata bahasa Arab yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dalam ayat itu, perintah Allah untuk sujud kepada Adam secara eksplisit ditujukan kepada para malaikat. Tidak ada mahluk lain yang diperintah secara eksplisit sujud kepada Adam, sehingga seakan-akan perintah itu hanya berlaku kepada malaikat. Tidak kepada yang lain. Tetapi, pada penggalan berikut dari ayat tersebut Allah menegaskan pula secara eksplisit maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Mereka, yakni para malaikat, tunduk patuh kepada perintah Allah, sehingga mereka bersujud kepada Adam. Lalu dimunculkanlah kata Iblis sebagai pengecualian, yakni mereka yang tidak mau bersujud.

Sehingga tentu saja, ayat tersebut sangat terbuka untuk dicermati secara seksama, khususnya tentang pengertian malaikat dan iblis. Ada dua pendekatan. Pertama, mahluk Allah yang diajak berdialog oleh Tuhan ketika Dia akan menciptakan Adam adalah malaikat, karena di alam malakut hanya ada mahluk yang disebut malaikat. Selain itu tidak ada mahluk lain. Sehingga perintah bersujud pun secara eksplisit disampaikan kepada malaikat. Kemunculan kata iblis sebagai pengecualian menunjukkan adanya degradasi posisi malaikat yang membangkang, sehingga para pembangkang itu tidak lagi disebut malaikat, melainkan disebut dengan panggilan iblis. Lalu karena pembangkangan itulah mereka diusir dari sorga.

Kedua, malaikat dan iblis adalah simbolisasi sifat manusia. Manusia yang taat disimbolisasikan sebagai malaikat, dan manusia yang membangkang disimbolisasikan sebagai iblis. Kedua sifat itu ada pada manusia. Pendekatan ini sekaligus untuk membuktikan bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Mandiri. Dia tidak memerlukan pertimbangan dari pihak lain untuk menentukan sesuatu.

Pendekatan pertama mungkin mengandung resiko yang cukup tajam, terutama karena selama ini sudah terlanjur adanya pemahaman yang telah terpateri dalam benak kita bahwa malaikat adalah mahluk yang tidak bisa berkata lain kecuali taat, sedangkan iblis adalah mahluk yang tidak bisa berbuat lain, kecuali membangkang. Maka untuk membahasnya diperlukan tempat dan waktu khusus. Sedangkan pendekatan kedua terasa lebih dekat dengan kita, karena kita menyadari adanya potensi taat (malaikat) dan potensi membangkang (iblis) yang ada dalam diri kita. Lebih-lebih karena kita sering merasakan adanya pertempuran sengit antara taat dan membangkang tiap kali kita dihadapkan pada perintah yang wajib kita kerjakan.

Karena malaikat dan iblis adalah simbolisasi sifat manusia, dengan sendirinya kita perlu lebih mencermati diri kita sendiri, supaya kita dapat memahami dan mengetahui posisioning kita. Apakah kita dapat menempatkan diri dalam posisioning kita sebagai khalifatullah fil ardl, atau sebaliknya, kita menjadi perusak ?

Kita mulai dari pengertian sujud, yang oleh para mufassir disebut sebagai bentuk penghormatan kepada Adam sebagai cikal bakal manusia. Karena kita adalah manusia, maka kita pun mewarisi hak Adam untuk mendapatkan penghormatan. Ketika Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam, maka ketika itu sesungguhnya tidak ada manusia dan mahluk lain selain malaikat dan Adam. Nah, ketika kemudian mahluk yang bernama manusia itu berkembang biak hingga miliaran jumlahnya, maka perintah menghormat di sini pun harus mengalami perubahan pendekatan, yaitu tidak lagi hanya malaikat yang diperintah untuk menghormati Adam, melainkan juga perintah itu berlaku untuk semua manusia.

Jika Adam kita sebut sebagai bapak dan cikal bakal khalifatullah fil ardl, maka setiap manusia adalah khalifatullah fil ardl. Malaikat diperintah untuk hormat kepada khalifah yang telah diciptakan dan diutus Tuhan. Maka cukup masuk akal juga kalau setiap manusia sebagai sesama khalifah juga saling menghormati. Di sini kita lalu bertemu dengan ayat : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. ( QS 49 : 13 ) Saling mengenal hanya dapat dilakukan jika tiap-tiap manusia saling menghormati. Allah memang menyebut gender, yaitu laki-laki dan perempuan, untuk menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan itu pun memiliki kesetaraan untuk saling menghormati. Lalu Allah menyebut berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa, juga untuk menegaskan tentang kesetaraan dan kesamaan kedudukan. Tidak ada bangsa atau suku bangsa yang lebih mulia dibandingkan yang lain. Allah hanya menyebut orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa. Kemulian itu disebutkan di sisi Allah, artinya penilaian kemuliaan manusia itu hanya menjadi hak Allah, bukan hak manusia. Lalu disebutnya istilah yang paling taqwa sebagai satu-satunya syarat penilaian Allah untuk kemuliaan manusia.

Ketaqwaan adalah urusan rohaniah, bukan urusan jasmaniah, sehingga penilaian atas urusan rohaniah pun menjadi hak Sang Maha Rohani, yaitu Allah.

Jadi sesungguhnya dapat disimpulkan bahwa manusia yang gagal menghormati orang lain adalah manusia yang masih terhijab oleh wujud lahiriah atau wujud jasmaniahnya sendiri. Hijab wujud jasmaniah ini berupa : kedudukan, harta, ilmu, titel kesarjanaan, rupa yang cantik dan ganteng, hal-hal yang bersifat jasmaniah lain, termasuk di dalamnya wujud formalitas dan wujud tekstual suatu perintah dan larangan. Itu semua tidak dinilai oleh Allah. Yang dinilai adalah kondisi rohaniah kita yang mampu menyelam sampai ke hal-hal yang bersifat hakikat.

Iblis gagal memenuhi perintah Allah dengan pembangkangannya juga karena dia terhijab oleh wujud jasmaniah Adam yang terbuat dari tanah. Maka, di manakah posisioning kita di alam pergaulan dunia ini, mari kita lihat dan kita ukur sendiri dari seberapa tingginya kita menghormati orang lain.

Wallohua’lam. [*]

Fatchurrachman.myblogrepublika.com

0 Tanggapan ke “HIJAB WUJUD”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




Chubee Cah Ndeso


Anda Pengunjung ke :


Counter Powered by  RedCounter


IP



Kalender Hijriah


Jadwal Sholat

Statisti

  • 13,389 hits

Arsip

Kalender

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930