Imagineering: Jalan Sukses, Jalan Ilahiah

Ahmad Mukhlis Yusuf

“Jadikan amanah itu sebagai panggilan spiritual, bukan panggilan profesi semata”, begitu nasihat guru saya, Utomo Dananjaja, lebih dari dua tahun lalu. Saat itu, saya sedang mengikuti proses uji kelayakan dan kepatutan untuk memimpin salah satu BUMN.

Nasihat Mas Tom, demikian saya memanggilnya, mungkin dapat menggambarkan suasana yang ada di hati kita semua, pada saat kita sedang menghadapi semua permasalahan hidup yang kita alami saat ini dan pada masa lalu. Suasana spiritual kita sangat menentukan kegairahan kita dalam menghadapi situasi apa pun yang kita hadapi.

Teman, kita punya kebebasan untuk menentukan “suhu” dan “cuaca” diri kita, seburuk atau sebaik apapun kondisi lingkungan sekitar. Seorang teman, Agi Rachmat –motivator Dunamis– pernah berujar lingkungan pengaruh kita sebagai individu efektif harus lebih besar dari lingkungan kepedulian atau masalah yang sedang kita hadapi.

Kita adalah programmer atas kehidupan kita sendiri. Sungguh bijak nasihatnya. Masalah adalah bagian dari kehidupan, bahkan Allah SWT pun menegaskan dalam QS 29:2 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan; kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji?” Ujian adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita harus menghadapinya, bukan menghindarinya.

Seorang wartawan senior yang juga sekaligus budayawan, Syamsudin Haesy, baru-baru ini meluncurkan buku Platinum Track: Jalan Sukses, Jalan Ilahiah, sebuah kompilasi pengalaman dan pengamatannya terhadap lingkungan dalam hidup sebagai sebuah proses pendakian menuju jalan kemuliaan seorang manusia.

Kang Sem, begitu saya memanggilnya, menyebut jalan tersebut sebagai Platinum Track, sebuah panggilan ruhiyah menuju kesempurnaannya, kembali kepada Sang Pemiliknya. Ada pesan yang sama dan sejalan dengan nasihat Mas Tom, isi buku Syamsudin Haesy, pengalaman pribadi dan boleh jadi pengalaman Anda?

Bagi Anda yang sedang bekerja atau memimpin organisasi apa pun bentuknya, pesan Kang Sem ini bukan soal keberhasilan jangka pendek yang semata-mata diukur dengan angka-angka kinerja dan pengakuan pemegang saham atau pemangku kepentingan, melainkan soal warisan kehidupan kita semua, yang sejatinya akan meninggalkan karya agung sebagai warisan bagi kehidupan.

Angka-angka kinerja adalah tujuan antara (intermediate goals) menuju tujuan yang sesungguhnya (ultimate goal): meninggalkan warisan kebaikan di wilayah pengabdian apa pun di dunia ini. Di mana pun kita berada.

Ikhtiar untuk mewujudkan karya agung di dunia akan menjadi penarik energi, kegairahan, persistensi dan determinasi yang akan mengatasi segala keterbatasan yang kita miliki dalam mengatasi ujian setiap hari. Life is not without problem, demikian guru saya yang lain, Pak Saleh Syafraji, pernah berujar. Setiap ujian adalah tahapan menuju derajat kemuliaan yang lebih tinggi, bila kita dapat melaluinya.

Dengan sudut pandang demikian, kegairahan dalam menjalani hari-hari kehidupan, beserta ujian-ujian di dalamnya, merupakan sebuah perjalanan menapaki Jalan Ilahiyah menuju tujuan lebih besar.

Islam menyatakan tujuan lebih besar itu sebagai Ridha Allah. Sebab, semua kesulitan dan sebaliknya, kemudahan, semuanya berasal dari Dia, Sang Penggenggam Jiwa, Sang Pemilik Jiwa ini. Gerakan hidup ini belakangan dikenal dengan sebutan gerakan menuju kehidupan yang lebih mulia.

Visi hidup mulia kini telah menjadi gerakan di mana-mana, di berbagai belahan dunia ini, menembus sekat-sekat perbedaan ruang, waktu dan agama. Diskusi berbagai komunitas telah menembus sekat-sekat perbedaan keyakinan sekali pun.

Bahkan Danah Zohar membuktikan gerakan ini tengah menjadi gerakan universal, termasuk topik yang menarik bagi seorang atheis sekalipun. Kini telah tiba era baru yang membenarkan apa yang pernah dinyatakan para Rasul pembawa risalah agama-agama besar, yang disebut sebagai Era Kemuliaan (the age of greatness).

Gerakan hidup mulia boleh jadi sudah sering kita dengar sejak diperkenalkan oleh orang tua kita. Namun dalam bukunya ini, Kang Sem memahami adanya keterbatasan linier kita ketika ikhtiar manusiawi terhambat oleh tembok-tembok yang menghambatnya.

Manusia biasanya banyak mengandalkan baseline atau kaidah logika dan pengalaman empiris dalam ikhtiar meraih kesuksesan. Kaidah-kaidah linier dan empiris ini ia sebut sebagai kapasitas manusia untuk melakukan rekayasa (engineering) atau tindakan yang efektif yang berbuah pada kesuksesan. Stephen Covey menyebutnya sebagai perilaku atau kebiasaan efektif.

Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, Kang Sem memperkuat pentingnya kita memiliki imajinasi (imagination) dalam menggairahkan para pemilik masa depan untuk meraih impian-impian baru.

Hal ini serupa dengan upaya Jeft Imelt (CEO GE pasca Jack Welch) yang sedang berjuang menembus batas kemampuan rekayasa korporasi yang bernilai di General Electric.

Para outliers ini sedang membuktikan ucapan Einstein “we can’t solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them”. Diperlukan impian-impian yang menembus batas-batas kejumudan dan semua hal yang membelenggu manusia pada masa lalu dan masa kini.

Kang Sem kemudian mengajak kita untuk keluar dari belenggu masa lalu. Dia mengajak agar kita melakukan Imagineering, sebuah disiplin yang menggabungkan efektivitas kebiasaan saat ini dengan impian masa depan, yang dilandasi oleh tujuan-tujuan hidup yang lebih besar.

Pada level kepemimpinan organisasi, Imagineering akan memadukan imaginasi yang berakar dari sistem nilai (strong beliefs) yang kuat dengan kemampuan hands-on yang mampu menyampaikan kinerja yang nyata dan terukur kepada para pemangku kepentingan melalui tindakan-tindakan manajerial yang efektif.

Pada level individual, imagineering adalah ikhtiar sehari-hari yang efektif menuju Jalan Ilahiah yang ingin diraihnya melalui tindakan-tindakan nyata. Dai kondang Aa Gym pernah sangat terkenal ketika memperkenalkan rumus sederhana 3M; mulai dari diri kita, mulai dari yang kecil, mulai saat ini. Perubahan besar adalah gabungan antara pikiran-pikiran besar dengan tindakan-tindakan efektif setiap hari, kita semua, tanpa terkecuali.

Saya menganjurkan Anda membaca buku Kang Sem ini dan buku lain yang sejenis. Buku ini memberikan sejumlah nasihat bijak tentang falsafah, panduan, dan “rukun” Imagineering yang dapat menghela perubahan pada berbagai level kepemimpinan.

Rukun-rukun ini dapat berlaku pada praktik kepemimpinan yang berlaku pada diri sendiri, kelompok atau keluarga, organisasi atau perusahaan, dan bangsa.

“Rukun-rukun” ini, Insya Allah, akan menghasilkan jawaban atas pertanyaan yang selalu muncul pada kita semua; untuk apa semua hidup yang sedang kita jalani, dan ke mana kita sedang menuju? dan bagaimana meraihnya? Sebab, kita harus melakukannya hari ini, bukan besok. Wallahu’alam.

*) Penulis adalah praktisi manajemen, beralamat di ahmadmukhlis.yusuf@gmail.com

Tentang farrasbiyan

Hangudi Paseduluran Lumantar Blog
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s