Tetap Aktif Walau Diabetes

diabetMENDERITA diabetes bukan halangan untuk tetap berkarya. Dengan mengontrol dan menjaga kadar gula darah tetap normal, penderita diabetes bisa beraktivitas seperti biasa.

Hal ini dibuktikan oleh Bong Lay Tjung, 48, seorang penderita diabetes yang tetap aktif mengembangkan usaha sekaligus mengedukasi pasien diabetes lainnya. Sebelum berhasil mengontrol kadar gula darahnya, bapak satu putri ini mengaku sempat mengabaikan gejala diabetes yang dialaminya. Dia bahkan harus mengalami fluktuasi kadar glukosa darah selama bertahun-tahun karena kesulitan menerapkan pola hidup sehat dan tidak mengindahkan anjuran penggunaan obat dari dokter.

Setahun sebelum terdiagnosis menderita diabetes, Bong mengaku sudah mengalami gejala-gejala klasik diabetes, seperti penambahan nafsu makan, penurunan berat badan secara drastis, sering haus, dan sering buang air kecil di malam hari. ”Berat badan saya bisa turun sebanyak 3 kilogram dalam sebulan.” Akan tetapi, Bong tetap mengabaikan dan meneruskan kebiasaan makannya yang tidak akan berhenti makan sebelum sangat kenyang. Bong bahkan mengaku suka minum kopi manis. ”Saya bisa menambah hingga 3 sendok gula ke dalam segelas kopi.”

Pada 1991, Bong yang memiliki ayah dan ibu penderita diabetes ini, memutuskan memeriksakan diri ke dokter dan menemukan kalau kadar glukosa darahnya mencapai 300. Bong mengaku sangat bingung dan stres, terutama karena larangan mengonsumsi berbagai makanan oleh teman-teman serta istrinya.”Di rumah saya patuhi, tapi di luar saya makan sepuasnya.” Selain itu, Bong menyatakan tidak pernah serius mengikuti anjuran dokter dalam menggunakan obat.”Saya hanya makan obat seingat saya”.

Bong akhirnya memutuskan untuk mengubah pola hidupnya setelah mengikuti seminar mengenai komplikasi diabetes. ”Saya takut, jadi saya mulai berubah.” Bong mulai menerapkan pola diet seimbang, melakukan konsultasi gizi, serta melakukan olahraga, seperti senam dan jalan kaki, dengan teratur.

Hasilnya, laki-laki yang kini aktif sebagai pandu diabetes ini bisa mengontrol kadar gula darah dalam batas normal serta bebas obat sejak 2005. Diabetes, terang Bong, ternyata bukanlah halangan untuk beraktivitas sepanjang kita bisa mengontrol glukosa darah dengan pola hidup sehat. Selain itu, pesan dia, setiap orang harus menerapkan diet seimbang dan olahraga teratur untuk mencegah munculnya diabetes.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) dr. Achmat Rudijanto, SpPD-KEMD. Pasien diabetes, terang Rudi, bisa tetap aktif dan terhindar dari komplikasi dengan cara menjaga kadar glukosa darah tetap normal (glukosa darah puasa di bawah 100 dan 2 jam setelah makan di bawah 140). Pasien, lanjut Rudi, sebaiknya menurunkan berat badan, melakukan olahraga teratur, mengontrol kalori, serta mengikuti pengobatan sesuai anjuran dokter. ”Kalau perlu, pasien harus menggunakan obat atau insulin untuk mengendalikan kadar glukosa darah,” tutur Rudi dalam press conference bertema Kendalikan Diabetes untuk Meningkatkan Kualitas Hidup di Jakarta, Senin (9/11).

Pencegahan

Diabetes, terang Rudi, merupakan gangguan yang disebabkan oleh kurangnya produksi insulin atau gangguan kerja insulin/retensi insulin. Menurut Rudi, seseorang disebut menderita diabetes apabila memiliki kadar gula darah puasa lebih besar dari 126 serta kadar gula darah 2 jam setelah makan lebih besar dari 140. Sedang mereka yang mempunyai kadar gula darah puasa antara 100-126 dan gula darah setelah makan 140-200 termasuk dalam kategori prediabetes, yang selanjutnya berpotensi menderita diabetes. ”50 persen yang prediabetes akan jadi diabetes.”

Karena itu, tegas Rudi, setiap orang sebaiknya melakukan tindakan pencegahan. Langkah awal yang harus dilakukan, menurut Rudi, adalah menekan faktor risiko diabetes, seperti berat badan berlebih, kadar lemak yang tidak normal, dan hipertensi. Selain itu, ada baiknya lebih berhati-hati jika mempunyai garis keluarga yang menderita diabetes atau bagi ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan lebih besar dari 4 kilogram. Kedua faktor ini, terang dia, turut memperbesar risiko mengalami diabetes.

Dari semua faktor risiko, lanjut Rudi lagi, obesitas merupakan faktor penyebab terbesar disusul gaya hidup bermalas-malasan. Tumpukan lemak pada mereka yang obesitas, terang dia, akan menyebabkan lubang sel tempat masuknya insulin berkarat, sehingga memicu retensi insulin. Dan untuk menghindari obesitas, terang dia, setiap orang dianjurkan menghindari gaya hidup bermalas-malasan. ”Obesitas dimulai dari sedentary life dan kurang gerak.”

Ibu hamil dengan glukosa darah tinggi atau ibu dengan bayi lahir lebih besar dari 4 kilogram Rudi melanjutkan lebih jauh, juga harus lebih berhati-hati. Karena bayi dengan berat badan seperti ini, terang dia, bisa disebabkan oleh gangguan metabolisme gula pada ibu. Akibatnya gula akan masuk melalui plasenta sehingga janin membesar. (OL-08)

Tentang farrasbiyan

Hangudi Paseduluran Lumantar Blog
Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s