Perempuan yang menari bersama RUMI

Perempuan yang menari bersama RUMI
Judul Buku: Kemilau Cinta: Menembus Kabut Duka, Mereguk Anggur Cinta
Penulis: Dian Mayasari [2005]

“Biarkan aku terbakar menjadi cahaya!” demikianlah jerit nurani Dian
Mayasari, seorang yang pernah menjadi selebritis terkenal di
Indonesia. Siapa sangka di balik gemerlap hidupnya sebagai artis dan
penyanyi terkenal di era 80-an, Dian Mayasari menyimpan rapat-
rapat “dunia air mata” yang dialaminya. Ia mengalami pasang-surut
spiritualitas yang teramat perih, sebelum akhirnya menapak ke jalan
Sufi.
Maya, demikian panggilan kecilnya, kelahiran Bandung 27 Mei
1967, adalah putri pasangan Donih Cik Arya dan Kesumawaty. Bagi kita
yang pernah mengalami masa remaja di era 1980-an kemungkinan besar
mengenal Dian Mayasari hanya sebagai penyanyi dengan lima album
rekaman yang sukses dan artis film yang membintangi “Jangan Kirimi
Aku Bunga.” Tetapi sesungguhnya ia juga peraih medali emas Do-Jo,
medali perak DKI dan medali perak Kejurnas di bidang beladiri Kempo.

Sebagai artis top, ia berkelana ke mana-mana; ke London, main
kasino dan bertemu anak pejabat ternama di Indonesia, ke Paris, dan
kuliah di Universitas Sorbone. Selama kuliah ini ia tinggal bersama
salah satu keluarganya, yang kebetulan sangat dekat dengan tokoh PKI.
Alhasil, Maya pun harus merasakan tidak nyamannya bersinggungan
dengan intelejen. Selain itu, karena masih muda dan cantik, dia
dicemburui oleh istri-istri pejabat kedutaan. Tetapi, pada suatu
malam, lelaki tempat dia menumpang hidup dan sudah dianggapnya
seperti orang tua, ternyata melakukan pelecehan seksual pula terhadap
dirinya.

Paris tak memberinya ketenangan, maka ia pun kembali ke
Jakarta. Lalu ia melancong ke Jepang, berkenalan dengan teman baru,
jatuh cinta, melihat Kabuki, mengunjungi klub sex di Shinjuku, lalu
melanjutkan S-2 di Tohoku University, Zendai, dan menikah. Tetapi
pernikahan itu tak lama; Maya pun bercerai meski harus mendapat
amarah dari keluarganya. Pada akhirnya Maya tiba pada kesimpulan
bahwa sumber masalah yang menimpanya adalah karena tubuhnya, yang
cantik dan seksi. “Kurasa badan ini yang jadi petaka… mereka [lelaki]
hanya mau badanku” (hal. 122). Akhirnya dia mengenakan jilbab, sebuah
keputusan yang berani. Tetapi ia sering jatuh sakit dan harus berkali-
kali masuk rumah sakit. Kegelisahannya makin parah. Ia terkena
depresi berat.
Pada puncak masa deritanya, dan ketika ia sudah merasa tak
punya lagi sesuatu yang bisa menentramkannya, berjumpalah ia dengan
seorang kawan, yang memperkenalkannya ke jalan Sufi, jalan tarekat
Naqsyabandiyah, pimpinan (alm) Haji Kadirun Yahya. Dia bertemu dengan
salah seorang wakilnya, bernama Haji Rahim. Dan nasihat yang
diterimanya sungguh mengejutkan, nasihat yang jauh berbeda dengan
nasihat para psikiater dan psikolog yang selama ini
ditemuinya: “Selamat datang di jalan ini. Jangan mendekati zina” (hal
127).
Nasihat sederhana tanpa tedeng aling-aling ini bak palu yang
menghantam pecah karang gelap kesadarannya. Maya merenung, “Mendekat
saja nggak boleh sedangkan begitu banyak zina yang kerap kulakukan.
Zina hati sudah tak terhitung …Ah, ini harus selesai. Sampai kapan
aku akan berputar-putar di kisaran penderitaan tak berujung?” (hal
128). Sejak itulah Maya mendalami ajaran Sufi di tarekat ini.

Selama menjalani praktik tarekat, Maya kini berjalan untuk —
seperti terungkap dalam sub-judul buku ini — “menembus kabut duka,
mereguk anggur cinta.” Setelah guru tarekatnya meninggal, Maya
berkenalan dengan apa itu anggur cinta, yang selalu disenandungkan
oleh Maulana Rumi. Perjumpaannya denganseorang guru ruhani membuat Maya memasuki tahap selanjutnya. Ia mempelajari banyak hal sampai akhirnya gurunya berkata kepadanya:
“Sudah sekian lama engkau menari untuk dunia. Kini menarilah untuk Tuhan!”

Maya menulis, “Dulu aku menari di panggung dunia untuk menarik perhatian manusia. Kini tarian ini hanya untuk-Mu wahai Kekasih” (hal. 194). Maya terus menari berputar-putar, tarian Maulana Rumi, sampai ia
jatuh: “seiring dengan jatuhnya badan, jatuhkan pula egomu,
kesombongamu.”
Kini Maya sadar bahwa hidup adalah tarian dan nyanyian
persembahan bagi-Nya, bagi Sang Kekasih. Sejak saat itulah Maya dekat
dengan Maulana, menulis sajak dan menari bersama Rumi. Pada akhirnya
Maya merasakan saat-saat di mana “air mata bukan lagi duka.” Maya
telah terbakar oleh cinta Tuhan, seperti tersirat dalam sajak
ciptaannya yang mengharukan:

[wahai] cahaya kemilau tak terlihat mata/ Api kerinduan yang
menghidupkan/ bawalah aku terus menari, mendendangkan suara
keheningan/ sambil kudekap api rindu yang Kau selempangkan/ biar
dunia melihatku tertatih mengikuti suara-Mu/ bimbing langkahku/
biarkan aku terbakar, menjadi cahaya! (Nyanyian Dian Mayasari, hal
193).

Sepanjang kehidupannya, Maya telah diajari tentang hakikat rasa duka,
cinta, kehilangan, dan ketidakberdayaan sebelum akhirnya ia bertemu
dengan apa itu cinta sejati, sumber segala kebahagiaan. Kehidupan
Maya adalah salah satu dari sedikit potret manusia modern perkotaan
yang mengalami kegersangan makna hidup. Ketika dunia bergerak ke arah
hedonisme, dan ketika segala sesuatu sebagian besar mulai diukur
dengan kesuksesan materi (uang, tahta kekuasaan, ketenaran, dsb.)
pada saat itulah sisi rohani surut. Orang-orang memburu dunia,
sementara religiositas hanya jadi hiasan.

Tetapi jalan hidup Maya sedikit berbeda. Dia berangkat dari
pengalaman yang perih sejak usia SD, mengalami keglamoran hidup yang
kini diidam-idamkan banyak orang, namun dia lalu tinggalkan semuanya
untuk mencari sesuatu yang tak bisa ditukar dengan apapun. Ketika
kita merenungkan dalam-dalam kisah otobiografis Maya dalam buku ini,
kita seperti membaca kisah-kisah banyak penempuh jalan Sufi yang
hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Kita ingat legenda
tokoh yang berjuluk Brandal Lokajaya, penjahat kelas kakap, sebelum
akhirnya menjadi Sunan Kalijaga; kisah Bagus Burham yang bengal dan
penjudi, sebelum akhirnya menjadi pujangga-mistikus terakhir Jawa;
pemabuk berat Abu Nuwas, yang kelak menjadi penyair Sufi termasyhur;
Ibrahim bin Adham, raja yang bergelimang kenikmatan duniawi, yang
dalam semalam meninggalkan kemewahannya demi menempuh jalan Sufi; dan masih banyak lagi.

Yang membuat kita bertanya-tanya adalah: mengapa orang-orang
yang hidupnya “berantakan” itu bisa berubah sedemikian drastis,
padahal ada banyak pula orang-orang yang sama-sama “berantakan”
tetapi jalan hidupnya tak juga berubah? Apakah ini takdir? Sulit
menjawab dengan pasti, sebab barangkali soal ini berada
dalam “logika” Tuhan yang tak bisa dipahami dengan “logika” manusia.
Tetapi, dengan membaca otobiografi ini, setidaknya ada sedikit
petunjuk mengapa ada orang yang berubah dan ada pula yang tidak.

Mungkin kata kuncinya adalah nurani dan kesungguhan hati untuk
merenungi kehidupan dan mencari kesejatian. Maya telah memberikan
contoh perwujudan kongkret dari pernyataan terkenal Socrates: “Hidup
yang tak direnungi tak layak untuk dijalani.” Maya merenungi
kehidupannya yang terus-menerus terombang-ambing dalam duka dan air
mata. Ia mencari sesuatu yang juga dicari-cari banyak orang: yakni
kebahagiaan. Sebagian orang mengira kebahagiaan ada di dalam
kemewahan duniawi, sebagian orang mengira kebahagiaan adalah seperti
yang digambarkan dalam kitab-kitab suci.

Namun selama “kebahagiaan” itu masih berupa konsep, ia tak pernah kunjung datang. Kebahagiaan adalah persoalan “rasa,” atau dalam istilah sufi disebut “dzauq.” Maya kecewa karena konsep kebahagiaan yang dipahaminya dari pendidikan agamanya tak juga menghadirkan “rasa” kebahagiaan itu. Maya kecewa karena anggapan yang mengatakan bahwa kebahagiaan hadir ketika seseorang mempunyai banyak hal (uang, kemudahan, pamor, tahta) ternyata keliru. Maya juga kecewa karena kebahagiaan juga sulit dijumpai dalam kehidupan yang miskin dan sengsara. Lalu di manakah sumber kebahagiaan itu? Pikirankah kata kuncinya? Tetapi bukankah pikiran juga berubah-ubah tergantung kepada masukan yang diterimanya?
Maya terus-menerus mencari kebahagiaan, tetapi yang dijumpainya
justru duka. Sungguh pergulatan dan pengembaraan batin yang sangat
berat dalam mencari kebahagiaan. Ia seperti orang yang digambarkan
dalam kata bijak dalam ajaran Zen, “jika kau masih mencari
kebahagiaan, maka kau belum bahagia.”.

Maka, Maya berhenti mencari. Tetapi dengan berhenti, bukankah
semuanya akan sia-sia? Tidak juga, sebab berhenti mencari yang
dilakukan Maya bukanlah berhenti total, bukan rasa putus asa. Maya
hanya “istirah” sejenak. “Berhentinya” Maya adalah dalam arti
berhenti mengandalkan diri sendiri yang tak sempurna dalam mencari
kebahagiaan. Maya secara intuitif menyadari bahwa sumber kebahagiaan
bukan dari dalam dirinya, bukan dari dunia, bukan dari usahanya,
tetapi dari sesuatu yang lain, sumber dari segala sumber, yakni:
Tuhan. Jiwa Maya telah dihantam berbagai macam derita, persoalan,
kesenangan, kenikmatan dan sebagainya. Maya menempuh jalan gelap
kehidupan, tetapi seperti kata Kahlil Gibran: “hanya pada jalan
malamlah seseorang akan menemui fajar.”

Jadi, apa fungsi kegelapan malam-malam penuh duka cita yang
dialami Maya? Derita dan duka cita meruntuhkan anggapan tentang apa-
apa yang orang kira bisa lakukan. Dalam keadaan duka yang sangat,
manusia dipaksa untuk berhenti, untuk berubah, untuk pindah ke arah
yang baru, untuk menghadapi dan memusatkan perhatian pada apa-apa
yang tersembunyi dalam kesadaran, yakni Tuhan. Demikianlah, duka cita
yang mendalam membuat Maya hanya berkonsentrasi pada satu hal: Tuhan,
Kekasih sejati, yang bisa menawarkan cinta yang membebaskannya dari
penderitaan. Secara metaforis, dengan meminjam bahasa Sufi, dukacita
yang mendalam membuat Maya mengalami sebagian kecil dari
pengalaman “mati sebelum mati,” sebuah pengalaman yang dalam dunia
Sufi disebut-sebut sebagai pengalaman yang menyakitkan dan menyiksa
tetapi perlu dialami siapa saja yang ingin menggapai Tuhan. Seperti
kata Maulana Rumi, “Rasa sakitlah yang membimbing seseorang.
Seseorang tidak akan berusaha mencapai tujuan jika itu tidak
mengandung rasa sakit, godaan dan hasrat cinta.”

Rasa sakit dan kesusahan itulah yang juga ditekankan oleh gurunya.
Maya pernah berkesimpulan untuk tidak menikah, untuk mengabdikan
dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Tetapi, sang guru menyuruhnya untuk menikah.
Menikah adalah demi keseimbangan, kata sang guru. Perempuan
atau lelaki yang memutuskan hidup sendiri, secara spiritual (dari
sudut pandang Islam) belum seimbang, sebab meski pernikahan itu
sering menyusahkan dan seperti menambah beban hidup, karena harus
hidup bersama “orang lain” yang berbeda dengan diri sendiri, namun di
dalam pernikahan yang suci ada rahasia tersendiri – ada semacam obat
pahit yang kelak akan memberi pencerahan tentang diri sendiri,orang
lain dan tentang Tuhan. Maka sang guru menyuruhnya: “menikahlah, tak
ada yang mudah di dunia ini” Dan Maya pun menikah dengan lelaki yang
bahkan dia sendiri sebetulnya tak yakin apakah mencintainya atau
tidak. Tetapi, seperti disebut Maya sendiri, ini adalah pernikahan
ruhani. it’s hard to believe…

Jadi, pada akhirnya, membaca perjalanan hidup Maya ini adalah
seperti membaca misteri kehidupan. Hidup begitu sulit diterka,
seperti didendangkan Enya: “who can say where the days flow?” Atau
seperti diungkapkan sahabat Maya, penyair Ags. Arya
Dipayana, “mengikuti perjalanan Dian [Mayasari] dan membaca catatan
perjalanan hidupnya, saya tertunduk dalam keharuan yang sangat. Saya
seperti tengah menyimak perjalanan seseorang yang sama sekali
berbeda. … [Maya telah] diluluhlantakkan pengalaman,
diporakporandakan nasib, hanya agar dia bisa memahami sebaik-baiknya
apa yang dia kenal dengan Cinta …”

Dan dengan cinta inilah Maya meninggalkan dunia “Maya” (Ilusi), dan berjalan sambil menari menuju
Tuhannya — seperti Rumi.

Disunting dari catatan Tri Wibowo BS.
Semoga bermanfaat sebagai bahan renungan..

Tentang farrasbiyan

Hangudi Paseduluran Lumantar Blog
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s