Guyonan…

Nasib itu Tak Logis

Nasrudin sedang berjalan-jalan dengan santai, ketika tanpa permisi ada orang jatuh dari atap rumah dan menimpanya. Orang yang terjatuh itu tidak terluka sama sekali, tetapi Nasrudin yang tertimpa malah menderita cedera leher. Ia pun diangkut ke rumah sakit. Para tetangganya datang menjenguknya, mereka bertanya,

”Hikmah apa yang didapat dari peristiwa itu, Nasrudin?”
”Jangan percaya lagi pada hukum sebab akibat,” jawabnya.
”Orang lain yang jatuh dari atap rumah, tetapi leherku yang jadi korbannya. Jadi tidak berlaku lagi logika,
”Kalau orang jatuh dari atap rumah, lehernya akan patah!”

Ijma’ dan Fatwa Bid’ah

Ketika para ulama, filusuf dan para cendekiawan datang untuk mengetahui bahwa Nasruddin menodai kehormatan mereka di desa-desa terdekat dengan mengatakan:

“Orang-orang yang disebut bijak adalah bodoh dan bingung,” mereka menuduhnya merusak keamanan negeri.
Mullah ditangkap dan kasusnya diajukan ke Pengadilan Raja.
Raja: “Anda boleh bicara lebih dulu.”
Mullah: “Berilah saya pena dan kertas.”
Maka pena dan kertas pun diberikan.

Mullah: “Bagikan pena dan kertas itu kepada tujuh ulama.” Pena dan kertas pun dibagikan.
Mullah: “Biarlah mereka secara terpisah menulis jawaban atas pertanyaan berikut: ‘Apakah roti itu?'”
Ketujuh ulama itu telah menulis jawaban masing-masing atas pertanyaan Mullah tadi.
Kemudian kertas jawabannya diserahkan kepada raja yang membacanya dengan keras satu per satu:
Yang pertama mengatakan: “Roti adalah makanan.”
Yang kedua mengatakan: “Roti adalah tepung dan air.”
Yang ketiga: “Itu adalah adonan yang dibakar.”
Yang keempat: “Sebuah pemberian Allah.”
Yang kelima: “Berubah-ubah, menurut bagaimana Anda mengartikan roti.”
Yang keenam: “Roti adalah zat yang mengandung nutrisi.”
Yang ketujuh mengatakan: “Tidak seorang pun tahu dengan jelas.”

Setelah mendengar semua jawaban itu, Mullah berkata kepada raja,
“Bagaimana Anda bisa meyakini penilaian dan pertimbangan bagi orang-orang tersebut? Jika mereka tidak bisa menyepakati sesuatu yang dikonsumsinya sehari-hari, bagaimana mereka bisa dengan suara bulat menyebut saya seorang bid’ah?”

Arti Takdir

Beberapa kawannya minta Mullah menjelaskan arti takdir kepada mereka.
“Takdir bisa dirumuskan sebagai salah satu penerimaan,” kata Mullah.
“Misalnya, kalau sesuatu berjalan baik dan kita telah menduga akan berjalan salah, maka kita menerimanya sebagai nasib yang baik. Sekarang kalau sesuatu berjalan jelek, dan kita telah mengharapkannya berjalan baik, maka kita terima hal itu sebagai nasib jelek. Tetapi apabila kita menerima sesuatu yang baik atau buruk itu mungkin datang sebagai jalan kita, maka kita sebut itu takdir.” dari parodi sufi

Sop Panas, Tangan Dingin

Seorang laki-laki yang mendengar bahwa Nasrudin adalah orang yang amat bijaksana, bertekad mengadakan perjalanan guna menemuinya.
“Aku bisa mempelajari sesuatu dari orang bijaksana seperti ini,” pikirnya.
“Dan, pasti ada metode-metode tertentu dalam kegilaannya. Aku sendiri pernah belajar di sekolah-sekolah metafisik. Ini akan membuatku bisa menilai dan mempelajari kegagalan orang lain.”

Selanjutnya, ia mengadakan perjalanan yang amat melelahkan untuk sampai ke rumah Nasrudin yang kecil, berada di lereng sebuah bukit. Melalui jendela, laki-laki itu melihat Nasrudin sedang membungkuk di samping bara api, mencoba meniupnya ke arah tangannya yang ditekuk.

Ketika kehadirannya diketahui, laki-laki ini bertanya kepada sang Mullah tentang apa yang sedang dikerjakannya.
“Menghangatkan tanganku dengan napasku,” kata Nasrudin memberi tahu.
Setelah itu, keduanya sama-sama diam, sehingga pencari ilmu ini mulai berpikir apakah Nasrudin bersedia membagi kebijaksanaannya. Sekarang, istri Nasrudin ke luar membawa dua mangkuk kaldu.

“Mungkin sekaranglah saatnya aku mempelajari sesuatu,” kata si pencari ilmu kepada dirinya sendiri.
Dengan suara keras, ia bertanya, “Apa yang sedang engkau lakukan, Guru?”
“Meniup kalduku dengan napasku agar dingin,” kata sang Mullah.
“Tak salah lagi, ini orang, pasti penipu,” kata sang tamu kepada dirinya sendiri.
“Tadi dia bilang, meniup agar panas, lalu barusan dia berkata, meniup agar dingin. Bagaimana aku bisa percaya dengan apa yang ia akan katakan kepadaku?”
“Bagaimana pun, waktu tidak sia-sia,” katanya kepada dirinya sendiri, ketika ia menuruni bukit.
“Paling tidak, aku sudah tahu bahwa Nasrudin itu bukan seorang guru.”

Quick Count
Sejak dulu aku masih nggak habis menegrti, bagaimana teknik quick qount yang biasa di pake di pemilu di Indonesia itu bisa sangat merepresentasi hasil populasi seluruhnya. Yah, secara aing pernah belajar statistik, belajar apa itu sampel dan populasi, dan teknik melakukan metode penelitian dengan pendekatan sampel, sepertinya sangat nggak mungkin hasil quick qount itu bisa sama persis (dekat) dengan hasil sesungguhnya. Kenapa selisih 2% saja tidak ada. Keren sekali dah.

Kalo nggak salah quick qount yang di selenggarkan oleh tim independent, menggunakan sampel hanya pada 2000 TPS di seluruh Indonesia. Sempat terpikir sih, beberapa penyelenggara quick qount itu di bayar oleh beberapa orang/kelompok yang sangat berkepentingan. Tapi menurutku kemungkinannya kecil, walau aku nggak nyebutin sangat kecil. Ya, karena ada sekitar 5 tim yang melakukan quick qount, yang sepertinya independen, dan tentu banyak orang/kepentingan di antara mereka, akan sulit untuk mengatur semuanya pada satu perolehan yang diinginkan.

Ya, mungkin akan lebih masuk akal, ketika aku berpikir sebaliknya, hasil populasi yang sebenarnyalah yang diatur agar sesuai dengan hasil quick qount. Semua orang sudah tidak sabar lagi menunggu hasil. Mind set semua orang sudah terpola bahwa hasil populasinya akan sama dengan hasil sampel yang entah hanya berapa persen saja. So, buat apa pemilu, ganti aja dengan quick qount, yang tentunya lebih irit dan cepat, tidak merepotkan semua orang, lha wong semua juga ude nrimo-nrimo aja dengan hasil quick qount tho.

Tentang farrasbiyan

Hangudi Paseduluran Lumantar Blog
Pos ini dipublikasikan di Guyonan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s