Latihan Myelin

SABTU, 1 Agustus 2009. Matahari baru saja terbit ketika serombongan orang turun dari kereta api di Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur. Beberapa di antaranya berbadan gempal dan berotot, sedangkan lainnya biasa-biasa saja.

Mereka keluar dari kereta api sambil menjinjing tas. Ada yang memanggul ransel, membawa koper kecil, dan ada pula yang membawa tas jinjing. Tas yang mereka bawa tidak terlalu padat sehingga dapat diduga mereka hanya membawa beberapa setel pakaian. Dari salah satu ransel yang dibawa seorang di antara laki-laki itu tersembul benda mirip gergaji kayu yang dibungkus kertas koran.

Kulit mereka sawo matang,pertanda mereka biasa bekerja di udara terbuka. Hampir semua memakai topi pet. Satu hal lagi, raut muka mereka bersahaja sehingga saya berpikir mereka pasti bukan rombongan tukang copet atau kriminal yang biasa kita lihat di terminal. Mata mereka bukanlah mata liar yang tengah mencari korban.

Latihan Militer

Di luar stasiun, seorang lelaki menyalami orang-orang itu.Tampaknya mereka sudah saling kenal. Namun berbeda dengan rata-rata mahasiswa saya yang selalu riuh dan banyak tawa setiap kali diajak berjalan-jalan, mereka tidak banyak bicara. Mungkin mereka terbenam dalam khayalan masingmasing. Di depan stasiun, sebuah truk tentara sudah menunggu di selasela bajaj dan mikrolet yang berebut penumpang.

Satu per satu orang itu melompat ke truk.Truk yang dikendarai seseorang berambut cepak itu bergerak ke luar stasiun, menyembul dari kerumunan kendaraan, lalu berbelok menuju Cawang. Dia menembus kemacetan Ibu Kota menuju Bogor melalui jalan tol Jagorawi yang mulus. Rombongan sekitar 54 orang itu bergerak ke arah Taman Nasional Gunung Halimun. Tentu mereka tidak sedang menuju vila-vila liar para politikus yang dibangun di atas tanah hutan lindung.

Setelah melewati kawasan hutan berbukit,sampailah mereka di depan kamp pelatihan militer yang tertutup. Di jalan kecil yang dikelilingi rumput alang-alang tinggi terdapat sebuah pos jaga yang bentuknya memanjang.Rombongan itu turun di sana dan truk meninggalkan mereka. Seseorang bercelana loreng menyambut dan memberi tahu bahwa mereka masih harus berjalan sekitar 300 meter dari tempat perhentian.

Semua orang terlihat asyik dengan langkah mereka. Tak ada suara selain bunyi napas yang menyatu dengan alam. Seorang petugas memperkenalkan diri.“Nama saya Ari.Saya komandan latihan. Di sini saya didampingi rekan-rekan saya,” ujarnya.Ia menunjuk empat orang di sampingnya. “Saya Dian, pendamping kelompok satu.” “Saya Edi, pendamping kelompok dua.” “Saya Dadang,pendamping kelompok tiga.”

“Saya Budi,pendamping kelompok empat.” Setelah itu,muncul seseorang yang tampak lebih berwibawa.“Di sini Saudara-Saudara akan digembleng, diajari etika,kesopanan,dan disiplin. Untuk apa bekal itu?” tanyanya.Tanpa menunggu, dia segera menjawabnya sendiri. Sekarang mulai jelas siapa mereka dan untuk apa mereka berkumpul di sini. “Untuk Indonesia! Agar tidak memalukan bangsa,merah putih!” ujarnya sambil mengentakkan sepatu botnya ke aspal.

Dia pun melanjutkan.“Nanti di luar negeri, Bapak-Bapak akan bergaji besar. Untuk siapa Bapak-Bapak bekerja?” “Untuk masa depan!” ujar seorang di antara 54 anggota rombongan itu. “Mencari nafkah buat keluarga,” jawab yang lain. “Betul! Bapak-Bapak mencari nafkah buat keluarga, buat masa depan. Kalau mau bergaji besar, kita harus bekerja yang berat, kerja yang disiplin.Mengerti?” “Jadi segala yang dibawa dari kampung dibuang di sini.

Di sini kita samakan supaya bangsa kita maju dan terpandang di dunia.” Itulah hari-hari awal 54 lakilaki dari berbagai daerah yang dipersiapkan perusahaan konstruksi Indonesia,WIKA,untuk mengerjakan proyek mereka di Aljazair.Total tenaga kerja yang akan ditempatkan di sana lebih dari 1.000 orang.

Di kamp pelatihan militer yang dikelola Rindam,Kodam Jaya itu mereka dilatih disiplin, etika, tanggung jawab, kerja sama tim, kecepatan, menahan amarah, keselamatan kerja, dan sebagainya. Maklum, medan dan pekerjaan yang akan mereka tangani tidak ringan. Selain cuacanya ekstrim, dibutuhkan fisik yang kuat dan dukungan kerja sama tim.

Latihan Myelin

Cara berjalan diubah.Kecepatan dan respons ditingkatkan. Mereka berada di kamp itu selama empat hari,menginap di barak tentara dan mengikuti latihan-latihan fisik serta mental. Inilah proses pembentukan myelin yang bukunya sedang saya tulis. Seorang ustaz yang memimpin salat magrib memberi siraman rohani.“ Manusia yang bertanggung jawab adalah manusia yang mampu memberi nilai tambah,” ujarnya.

Dia mengupas maksudnya dalam bahasa yang sangat sederhana. “Oleh karena itu,”lanjutnya,“Kita harus mengedepankan tanggung jawab. Bekerja dengan tanggung jawab.” Pada sesi yang lain, seorang instruktur perempuan berbaju biru muda dan berkerudung memberikan presentasi tentang keselamatan bekerja.“Kalau Bapak- Bapak bekerja di sana, harus seperti ini.Pakai helm.

Adapun gambar yang ini adalah gantungan untuk perlindungan.Ingat,yang ini harus dipakai,” ujarnya sambil menunjuk gambar pada slide di depan layar yang disorot melalui LCD proyektor dari komputer laptop-nya. “Jangan lupa, kita bekerja dengan budaya 5R (ringkas, rapi, resik,rawat,dan rajin).

”Metode ini diadopsi Tony Warsono, HR Director Wika dari budaya disiplin perusahaan-perusahaan Jepang yang dikenal dengan istilah 5S yaitu “seiri (ringkas), seiton (rapi), season (resik), sciketon (rawat), shitsuke (rajin).” Bapak-Bapak harus ringkas.Barang-barang yang sudah tidak diperlukan jangan disimpan.Yang harus dibuang ya dibuang.Jangan pikir-pikir “Ah ini saya kumpulkan saja nanti dibawa pulang’.

Nanti lama-lama busuk. Jadi menumpuk banyak barang itu merepotkan, tidak ringkas. Rapi, semua pekerjaan harus benarbenar rapi. Juga resik. Harus resik supaya enak dipandang. Semua alat dan bangunan yang dikerjakan harus dirawat dan kita bekerja dengan rajin,”ujar instruktur tadi. Pada malam berikutnya, seorang pria berbadan besar juga memberikan materi dengan menggunakan slide.

“Bapak-Bapak nanti akan mengerjakan proyek ini,” ujarnya sambil menunjuk sebuah gambar.“Jalan ini panjangnya 100 kilometer dan di situ ada 100 gorong-gorong dan jembatan yang harus kita kerjakan. Orang-orang Jepang sudah kewalahan mengerjakan bagian ini,makanya mereka meminta bantuan kita. Kita kerjakan dengan sungguh-sungguh. Harus bagus,”ujarnya.

“Nanti Bapak-Bapak tidak usah menghiraukan kalau diolok-olok. Kita biasa diolok-olok di sana. Misalnya, waktu makan bersama. Sebelum makan kita berdoa dan bersyukur, ini dianggap aneh. Mereka belum ada yang begini.Tapi tidak apa-apa. Yang penting kita bekerja dengan bagus dan cepat.” “Saya minta bapak-bapak saling menjaga dan bekerja sama. Jadilah seperti tinta.

Tinta yang sedikit saja kalau dimasukkan ke dalam air di ember semua airnya menjadi biru. Jadi Bapak-Bapak saling memengaruhi bekerja yang baik,”ujarnya. Demikianlah setiap hari.Siang hari di lapangan, mereka belajar baris-berbaris,menyanyikan lagu Indonesia Rayadengan sikap tubuh sempurna dan tatapan ke depan.

Latihan kecepatan dan kesigapan, melewati rintangan, menaiki bukit, turun tebing, blind rope, teamwork, dan seterusnya. Kadang delapan orang harus saling membentuk menara manusia setinggi 6 meter.Kadang mereka menaikkan ban ke atas tiang setinggi 2,5 meter dengan tangga manusia. Adpun malamnya mereka menerima arahan-arahan pekerjaan yang dilakukan di tempat bekerja.

Fisik yang kuat adalah satu hal, tapi tim yang mempunyai karakter dan kompak adalah hal lain yang tidak diperoleh begitu saja dari warisan alam. Semua itu harus dibentuk, ditularkan, dipelihara, dan dibimbing untuk menghasilkan prestasi yang bagus.Pusat perubahan itu ada pada myelin yang menjadi perhatian baru dalam pembentukan intangibles. Myelin (muscle memory) adalah potensi terpendam yang baru menjadi kekuatan kalau dilatih dan ditumbuhkan, diselaraskan dengan brain memorymanusia. Seperti kata Jim Collins (2001),

“Setiap perusahaan punya budaya, beberapa perusahaan punya disiplin. Namun sedikit sekali yang mempunyai budaya disiplin.” WIKA percaya budaya disiplin adalah keunggulan yang tidak mudah dikalahkan, tak mudah ditiru. Namun mereka juga paham, budaya seperti itu tak dapat diperoleh dalam sekejap.Sebab myelin tidak didapat semudah membalikkan tangan.(*)

RHENALD KASALI

Ketua Program MM UI

Tentang farrasbiyan

Hangudi Paseduluran Lumantar Blog
Pos ini dipublikasikan di Berita Umum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s