Bukan Umat Muhammad

Oleh Drs. H. Ahmad Yani, Ketua LPPD Khairu Ummah

Menjadi umat Nabi Muhammad Saw merupakan kehormatan tersendiri bagi manusia. Hal ini karena keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya yang diwujudkan dalam bentuk ketaqwaan kepada Allah Swt membuatnya menjadi mulia. Oleh karena itu, banyak orang yang ingin dikelompokkan menjadi umat Nabi Muhammad Saw, namun karena tidak ada ketaqwaan pada dirinya, maka Rasulullah tidak mau mengakuinya.

Ada tiga hal yang akan kita bahas pada tulisan yang singkat ini tentang faktor apa yang membuat seseorang tidak diakui sebagai umat Nabi Muhammad saw.

1. BERSUMPAH DEMI AMANAH

Dalam kehidupan ini, banyak manusia yang mendapatkan amanah dari sesama manusia, baik dalam bentuk jabatan atau kedudukan hingga kekayaan. Dalam kaitan ini, mendapatkan kepercayaan dari orang lain merupakan sesuatu yang tidak mudah, hal ini karena banyak sekali orang yang telah memberikan amanah dikecewakan oleh orang yang diberi amanah, akibatnya iapun tidak mau lagi mengamanahi sesuatu yang sangat penting kepada orang tersebut misalnya dalam masalah kepemimpjnan.

Untuk tetap mendapat amanah kedudukan itulah, seseorang terus berusaha dengan segala cara, ia merasa menjadi pemimpin itu sesuatu yang harus dicapai karena secara duniawi sangat menyenangkan, misalnya mendapatkan pasilitas hidup yang sangat memadai, bahkan sampai ada tunjangan membeli pakaian.

Salah satu cara untuk mendapatkan kedudukan adalah dengan mempengaruhi orang yang memberikan kepercayaan atau dalam istilah politik mempengaruhi pemilih pada pemilu, bahkan untuk mempengaruhinya ia tidak ragu-ragu untuk bersumpah agar si pemilih begitu yakin bahwa memilih dirinya merupakan pilihan yang sangat tepat. Padahal, sesungguhnya ia ingin mendapatkan kedudukan sekadar ingin mendapatkan keuntungan duniawi. Ini merupakan sesuatu yang tidak bisa dibenarkan, karenanya Rasulullah Saw tidak mau mengakui orang seperti ini sebagai umatnya, beliau bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ حَلَفَ بِاْلأَمَانَةِ

Bukan golongan kami orang yang bersumpah demi amanah (HR. Ahmad, Ibnu Hibbab dan Hakim)

Oleh karena itu, satu hal yang harus disadari bahwa setiap kali orang memperoleh amanah, maka ia harus mampu mempertanggungjawabkannya dengan baik dalam arti tidak menyalahgunakan amanah itu untuk meraih keuntungan yang bersifat pribadi, apalagi bila sampai memanfaatkan amanah yang sudah diterimanya itu untuk kemaksiatan. Oleh karena itu, semantap apapun sumpah dan janji orang telah mengkhianati amanah, jangan berikan amanah itu kepada orang lain.

2. MERAMPAS HAK ORANG LAIN

Setiap manusia pasti memiliki hak-hak pribadi yang harus dihormati, karena itu jangan sampai ada hak-hak orang lain yang dirampas. Dalam kaitan itulah, siapa saja yang mengetahui ada hak orang lain yang dirampas, maka setiap kita harus memberikan pembelaan, jangankan merampas nilai-nilai kehormatan dirinya, merampas pakaian saja sudah cukup buat kita membelanya dan orang yang melakukan perampasan itu tidak akan diakui sebagai umat Nabi Muhammad Saw.

Oleh Karena itu, Khalifah Abu Bakar Ash Shidik dalam pidatonya setelah dilantik menjadi khalifah menyatakan: “Siapa saja yang lemah diantara kamu akan kuat bagiku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya, insya Allah. Dan siapa saja yang kuat diantara kamu akan lemah berhadapan denganku sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, insya Allah”.

Tidak diakuinya orang yang merampas hak orang lain sebagai umat Nabi Muhammad Saw karena memang menjadi umat Nabi Muhammad tidak bisa hanya sekedar pengakuan atau pernyataan, tapi ia harus membuang sifat-sifat yang tidak pantas untuk dimiliki oleh umat Nabi Muhammad Saw, hal ini diisyaratkan dalam hadits Nabi Saw:

لَيْسَ مِنَّا مَنِ انْتَهَبَ أَوْ سَلَبَ أَوْ أَشَارَ بِالسَّلْبِ

Bukan golongan kamu orang yang merampas atau mencabut pakaian orang atau menyuruh mencabut pakaian orang (HR. Thabrani dan Hakim)

Dalam kehidupan sekarang, kita dapati begitu banyak kasus-kasus perampasan hak orang lain, bukan hanya sekadar perampasan pakaian yang hendak digunakan, tapi juga perampasan harta hingga kehormatan dengan kasus-kasus pemerkosaan. Yang lebih tragis lagi adalah kalau pemerintah yang seharusnya mengembalikan harta rakyat yang dirampas orang, tapi justeru ia sendiri yang merampasnya. Ini merupakan bentuk kezaliman penguasa yang tidak boleh dibiarkan terus berlangsung.

Karena hak-hak orang lain harus dipenuhi dan dipelihara dengan baik, maka ketika menjadi khalifah, Umar bin Khattab sangat memperhatikannya. Ketika terjadi krisis pangan pada masanya, Umar langsung memberi bantuan sembako pada masyarakatnya, bahkan pada malam harinya ia mengecek langsung apakah seluruh rakyatnya sudah kenyang dan bisa tidur pulas atau belum.

Ketika Umar mendapati ada rakyatnya yang hanya pura-pura masak di malam hari karena sekadar untuk memberi harapan pada anaknya yang lapar, maka Umar mengangkat sendiri sekarang sembako untuk diberikan kepada warganya itu, karena memang itulah hak yang harus diperolehnya, namun belum terkirim sebagaimana mestinya.

Disamping itu, ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, ia ditegur oleh anaknya yang masih remaja agar segera mengembalikan harta rakyat yang dirampas secara zalim oleh penguasa terdahulu, padahal itu memang sesuatu yang sudah direncanakan Umar namun akan ia lakukan sesudah zuhur, sedangkan pagi itu ia ingin beristirahat terlebih dahulu. Tapi Umar diingatkan dengan pertanyaan: apa ada jaminan bahwa umurnya sampai di waktu zuhur?. Akhirnya Umarpun tidak jadi berisitirahat, ia segera lakukan upaya mengembalikan harta rakyatnya yang diambil secara zalim.

3. MENYERUPAI LAWAN JENIS

Manusia telah diciptakan oleh Allah Swt terdiri dari laki-laki dan wanita. Seorang laki-laki harus menerima ketentuan Allah Swt bahwa ia diciptakan sebagai laki-laki, begitu juga dengan wanita. Karena itu jangan sampai laki-laki ingin mengubah dirinya menjadi wanita atau wanita ingin mengubah dirinya menjadi laki-laki, sebab jangankan mengubah jenis kelamin, laki-laki menyerupai wanita atau wanita menyerupai laki-laki saja sudah tidak bisa dibenarkan, termasuk dalam masalah berpakaian, Rasulullah Saw melarang hal ini dalam haditsnya:

لَعَنَ اللهُ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ

Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki (HR. Abu Daud)

Dalam kehidupan sekarang, kita dapati banyak laki-laki yang mengubah dirinya menjadi wanita atau seperti wanita, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun hanya beberapa saat seperti dalam film, sandiwara, sinetron maupun pertunjukan lawak, ini merupakan sesuatunyang tidak bisa dibenarkan. Karena itu, bila ada orang yang melakukannya, ia tidak akan diterima atau diakui sebagai umat Nabi Muhammad Saw, Rasulullah Saw bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ وَلاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنِّسَاءِ مِنَ الرِّجَالِ

Bukan golongan kami perempuan yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai perempuan (HR. Ahmad)

Disamping meratap, memusuhi dan menipu umat Islam serta tidak saling menghormati yang menyebabkan seseorang tidak pantas disebut sebagai umat Islam atau umat Nabi Muhammad Saw, masih banyak lagi sifat-sifat buruk lainnya yang harus kita singkirkan dari diri kita masing-masing kalau kita mau diakui sebagai umat Nabi Muhammad saw. Sifat-sifat itu akan kita bahas melalui tulisan yang singkat ini.

1. PENDENGKI, PENGUMPAT DAN PERDUKUNAN

Muslim antara yang satu dengan lainnya merupakan orang yang bersaudara, karena itu jangan sampai diantara mereka terdapat perasaan atau sikap hasad, dengki atau iri hati. Sifat hasad merupakan sikap yang menunjukkan tidak sukanya seseorang atas kemajuan atau kebaikan yang dicapai orang lain. Karenanya, segala usaha akan dilakukannya untuk menghambat laju pencapaian kemajuan itu. Iapun berusaha untuk menjelek-jelekan orang tersebut dengan mengumpat, yakni membicarakan hal-hal yang buruk dengan maksud penghinaan yang tentu saja tidak disukai oleh orang yang dibicarakannya itu, bahkan kalau cara itu tidak juga bisa menghambat kemajuan, ia tidak ragu-ragu untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aqidah sekalipun, yakni memanfaatkan perdukunan. Ia berusaha untuk menghancurkan kemajuan itu dengan meminta bantuan dukun, sehingga sang dukun tidak segan-segan untuk menuruti apa maunya orang ini, termasuk segala hal yang bisa menyebabkan kematian seseorang. Para dukun bisa menggunakan sihir, santet dan segala perbuatan syaitan lainnya untuk menghambat kemajuan seseorang.

Sikap ini merupakan faktor yang sangat berbahaya, sebab orang seperti ini disamping telah merusah aqidah dirinya, juga bisa merusak aqidah orang lain, khususnya yang masih lemah keimanan dan pemahamannya terhadap nilai-nilai aqidah. Oleh karena itu, orang yang melakukan hal ini tidak bisa diterima sebagai umat Nabi Muhammad saw, beliau bersabda dalam satu haditsnya:

لَيْسَ مِنِّى ذُوْ حَسَدٍ وَلاَ نَمِيْمَةٍ وَلاَ كَهَانَةٍ وَلاَ اَنَا مِنْهُ

Bukanlah termasuk golonganku orang yang memiliki sifat dengki, mengumpat dan perdukunan, demikian pula aku bukan termasuk golongannya (HR.Thabrani).

2. FANATIK PADA KELOMPOK

Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia termasuk kaum muslimin hidup dengan latar belakang yang berbeda-beda, termasuk latar belakang kelompok, baik karena kesukuan, kebangsaan maupun golongan-golongan berdasarkan organisasi maupun paham keagamaan, hal ini disebut dengan ashabiyah. Para sahabat seringkali dikelompokkan menjadi dua golongan, yakni Muhajirin (orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan Anshar (orang Madinah yang memberi pertolongan kepada orang Makkah yang berhijrah). Pada dasarnya golongan-golongan itu tidak masalah selama tidak sampai pada fanatisme yang berlebihan sehingga tidak mengukur kemuliaan seseorang berdasarkan golongan, hal ini karena memang Allah Swt mengakuinya, hal ini terdapat dalam firman Allah yang artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS 49:13).

Manakala seseorang memiliki fanatisme yang berlebihan terhadap golongan sehingga segala pertimbangan dan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan golongannya, bukan berdasarkan nilai-nilai kebenaran, maka hal ini sudah tidak bisa dibenarkan, inilah yang disebut dengan ashabiyah yang sangat dilarang di dalam Islam, apalagi bila seseorang sampai mengajak orang lain untuk bersikap demikian, lebih-lebih bila seseorang siap mati untuk semua itu, maka Rasulullah Saw tidak mau mengakui orang yang demikian itu sebagai umatnya, hal ini terdapat dalam hadits Nabi Saw:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا اِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Bukan golongan kamu orang yang menyeru kepada ashabiyah, bukan golongan kami orang yang berperang atas ashabiyah dan bukan golongan kami orang yang mati atas ashabiyah (HR. Abu Daud)

Nabi Muhammad Saw tidak mau mengakui seseorang yang memperjuangkan nilai-nilai ashabiyah sebagai umatnya karena hal ini hanya akan melemahkan kekuatan kaum muslimin. Sebab, sebanyak dan sebesar apapun potensi umat Islam, jika penyakit ashabiyah telah menyerang mereka, yang terjadi kemudian adalah terjadinya keretakan hubungan diantara sesama mereka untuk selanjutnya kekuatan umat itu akan tercabik-cabik yang berujung pada kelemahan yang bertambah lemah.

3. MERUSAK HUBUNGAN

Dalam Islam, kehidupan keluarga yang dimulai dengan aqad nikah merupakan sesuatu yang sangat penting, karenanya ajaran Islam memberikan perhatian yang begitu besar dalam masalah keluarga sehingga begitu detail masalah ini diatur dan dijelaskan dalam syari’at Islam. Oleh karena itu pernikahan harus dipermudah, sedangkan perceraian harus dipersulit. Dari keluarga yang baik, diharapkan akan lahir masyarakat yang baik. Dari sisi inilah, kedudukan keluarga menjadi sangat penting sehingga kita memiliki kepentingan yang sangat dalam bagi terwujudnya kehidupan suami isteri yang harmonis dalan keluarga, karena keharmonisan suami isteri sedikit banyak berdampak dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, sangat wajar bila seseorang tidak akan diakui sebagai umat Nabi Muhammad saw bila ia menjadi faktor yang menyebabkan keretakan hubungan suami isteri, apalagi bila sampai menimbulkan perceraian. Disamping itu, dalam kehidupan keluarga seringkali dibutuhkan adanya pembantu yang pada masa dahulu disebut dengan budak, namun sistim perbudakan sudah tidak dibenarkan. Manakala hubungan majikan dengan pembantu-pembantunya berjalan dengan baik, maka hal ini akan berpengaruh yang sangat positif dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Itu sebabnya, bila ada orang yang meretakkan hubungan yang baik antara majikan dengan pembantunya, Rasulullah Saw tidak bisa membenarkannya dan hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang membuat beliau tidak mau mengakui seseorang sebagai umatnya, Rasulullah Saw bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا أَوْ عَبْدًا عَلَى سَيِّدِهِ

Bukan golongan kamu orang yang merusak (hubungan) perempuan atas suaminya atau budak atas tuannya (HR. Abu Daud dan Hakim).

Apabila merusak hubungan suami isteri dan majikan dengan pembantunya saja sudah bisa menjadi faktor bagi seseorang untuk tidak diakui sebagai umat Nabi Muhammad Saw, apalagi bila merusak hubungan antar anggota masyarakat. Oleh karena itu, bila ada suami isteri yang mengalami konflik saja harus kita damaikan, mengapa yang hubungannya sudah mantap harus kita rusak, begitu pula dalamkaitan hubungan pembantu atau pekerja dengan majikannya. Dari sisi inilah, upaya memecah belah hubungan antar orang yang hubungannya sudah baik menjadi sesuatu yang snagat dilarang di dalam Islam. Allah Swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS 49:12).

Dengan demikian, menjadi semakin jelas bagi kita bahwa bila seseorang ingin tetap diakui sebagai umat Nabi Muhammad Saw, menjadi keharusan baginya untuk tetap menjaga kebersihan hati dari sifat-sifat tercela dan bila sifat-sifat buruk ada pada dirinya, ia harus berusaha untuk segera bisa menghilangkannya.

Tentang farrasbiyan

Hangudi Paseduluran Lumantar Blog
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bukan Umat Muhammad

  1. langgeng berkata:

    terima kasih atas artikelnya semoga Allah SWT memberikan kesempatan untuk berkarya lebih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s