Seputar Anak

Menyerukan Adzan Pada Telinga Kanan Bayi

Diriwayatkan oleh Abu Rafi’ yang telah menceritakan :

“Aku melihat Nabi SAW menyerukan adzan di telinga Al Hasan ibnu Ali saat baru dilahirkan oleh ibunya, Fathimah.”

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa rahasia dilakukan adzan dan iqamah di telinga bayi yang baru lahir mengandung harapan yang optimistis agar mula-mula suara yang terdengar oleh telinga bayi adalah seruan adzan yang mengandung makna keagungan dan kebesaran Allah serta syahadat yang menjadi syarat utama bagi seseorang yang baru masuk Islam. Dengan demikian, tuntunan pengajaran ini menjadi perlambang Islam bagi seseorang saat dilahirkan ke alam dunia. Hal yang sama dianjurkan pula agar yang bersangkutan untuk mengucapkan kalimat tauhid ini saat sedang meregang nyawa meninggalkan dunia yang fana ini. Tidaklah aneh bila pengaruh adzan ini dapat menembus kalbu sang bayi dan mempengaruhinya meskipun perasaan bayi yang bersangkutan masih belum dapat menyadarinya.

Perlakuan ini menerangkan akan kepedulian Nabi SAW terhadap aqidah tauhid yang harus ditanamkan secara dini dalam jiwa sang anak dan sekaligus untuk mengusir setan yang selalu berupaya mengganggu sang bayi semenjak kelahirannya dan memulai kehidupan barunya di alam dunia.

Menekankan Anak Agar Berkata Jujur

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah ibnu ‘Amir ra yang menceritakan masa kecilnya, bahwa ibunya memanggilnya sedang saat itu Nabi SAW sedang berada di rumah kami. Ibunya berkata : “Kemarilah, aku akan memberimu sesuatu!”. Nabi SAW bertanya kepada ibunya: “Apakah yang akan engkau berikan kepadanya?” Ibunya menjawab: “Aku akan memberinya buah kurma.” Melihat gelagatnya, Nabi SAW pun bersabda: “Ingatlah, jika engkau tidak memberinya sesuatu apa pun, niscaya akan dicatatkan sekali dusta terhadapmu.” (Abu Dawud, Kitabul Adab 4339, dan Ahmad, Musnadul Makkiyin 15147)

Sesungguhnya anak-anak itu senantiasa mengamati sepak terjang orang-orang dewasa dan meniru perilaku mereka. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kedua orang tua berbohong terhadap anaknyadengan cara apapun.

Memberi Anak Nama Yang Baik

Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Diantara keindahan ialah memberi nama yang baik bagi anak dan tidak memberinya nama yang mengandung makna buruk. Islam adalah agama kemudahan seperti yang disebutkan dalam firman-Nya : “Allah menghendaki kemudahan bagi kamu.” (Q.S. Al Baqarah : 185).

Untuk itu, Islam selalu menginginkan kemudahan, meskipun menyangkut pemberian nama, dan Islam tidak menyukai kesulitan dan kekerasan meskipun juga menyangkut pemberian nama. Nabi SAW memerintahkan agar para orang tua memberi nama anaknya dengan nama yang baik. Suatu hari seseorang datang kepada Nabi SAW dan bertanya, ” Ya Rasulullah, apa hak anakku ini?” Nabi SAW menjawab, “Memberinya nama yang baik, mendidik adab yang baik, dan memberinya kedudukan yang baik (dalam hatimu).” (HR. Aththusi).

Nabi pernah merubah nama yang artinya buruk, Barrah, menjadi Zainab. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Semula nama Zainab adalah Barrah. Orang mengatakan, ia membersihkan dirinya. Lalu Rasulullah saw. memberinya nama Zainab”. (Shahih Muslim No.3990)

Nabi melarang ummatnya untuk memberi nama dengan gelarnya: Abu Qosim. Dari Anas bin Malik ra., ia berkata: “Seseorang menyapa temannya di Baqi: Hai Abul Qasim! Rasulullah saw. berpaling kepada si penyapa. Orang itu segera berkata: Ya Rasulullah saw, aku tidak bermaksud memanggilmu. Yang kupanggil adalah si Fulan. Rasulullah saw. bersabda: Kalian boleh memberi nama dengan namaku, tapi jangan memberikan julukan dengan julukanku”. (Shahih Muslim No.3974)

Sebaliknya, Nabi menganjurkan agar kita memberi nama anak kita dengan nama Nabi, yaitu: Muhammad. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: “Berikanlah nama dengan namaku, tetapi jangan memberikan julukan dengan julukanku”. (Shahih Muslim No.3981)

Dari Jabir bin Abdullah ra., ia berkata: “Seseorang di antara kami mempunyai anak. Ia menamainya dengan nama Muhammad. Orang-orang berkata kepadanya: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama Rasulullah saw. Orang itu berangkat membawa anaknya yang ia gendong di atas punggungnya untuk menemui Rasulullah saw. Setelah sampai di hadapan Rasulullah saw. ia berkata: Ya Rasulullah! Anakku ini lahir lalu aku memberinya nama Muhammad. Tetapi, orang-orang berkata kepadaku: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah saw. Rasulullah saw. bersabda: Kalian boleh memberikan nama dengan namaku, tetapi jangan memberi julukan dengan julukanku. Karena, akulah Qasim, aku membagi di antara kalian”. (Shahih Muslim No.3976)

Haram menamakan anak dengan nama Allah seperti Malikul Amlak dan Malikul Mulk (Raja Segala Raja) karena itu adalah nama Allah. Jangan memberi nama anak dengan nama-nama Allah. Dari Ibnu Umar ra, Nabi bersabda: “Nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah (Hamba Allah) dan Abdurrahman (Hamba Yang Maha Pengasih)”. [HR Muslim]

Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW bersabda: “Nama yang paling jelek di sisi Allah adalah seorang yang bernama Malikul Muluk. Ibnu Abu Syaibah menambahkan dalam riwayatnya: Tidak ada malik (raja) kecuali Allah Taala”. (Shahih Muslim No.3993)

“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna” [Al A’raaf:180]

“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)” [Thaahaa:8]

Sebaliknya Nabi memberi nama-nama Nabi seperti Ibrahim kepada seorang anak. Sebaiknya nama adalah Abdul (Hamba) dengan Asma’ul Husna (99 Nama Allah yang baik) seperti Abdullah (Hamba Allah), Abdurrahman (Hamba Maha Pengasih), Abdul Hakim, Abdul Hadi, dan sebagainya.

Dari Aisyah ra., ia berkata: “Asma binti Abu Bakar ra. keluar pada waktu hijrah saat ia sedang mengandung Abdullah bin Zubair. Ketika sampai di Quba’, ia melahirkan Abdullah di Quba’. Setelah melahirkan, ia keluar menemui Rasulullah saw. agar beliau mentahnik si bayi. Rasulullah saw. mengambil si bayi darinya dan beliau meletakkannya di pangkuan beliau. Kemudian beliau meminta kurma. Aisyah ra. berkata: Kami harus mencari sebentar sebelum mendapatkannya. Beliau mengunyah kurma itu lalu memberikannya ke mulut bayi sehingga yang pertama-tama masuk ke perutnya adalah kunyahan Rasulullah saw. Selanjutnya Asma berkata: Kemudian Rasulullah saw. mengusap bayi, mendoakan dan memberinya nama Abdullah. Tatkala anak itu berumur tujuh atau delapan tahun, ia datang untuk berbaiat kepada Rasulullah saw. Ayahnya, Zubair yang memerintahkan demikian. Rasulullah saw. tersenyum saat melihat anak itu menghadap beliau. Kemudian ia membaiat beliau”. (Shahih Muslim No.3998)

Merayakan Kelahiran Bayi Dengan Aqiqah

Diriwayatkan dari Samurah ibnu Jundub ra, dari Nabi SAW yang telah bersabda : “Setiap bayi digadaikan oleh aqiqahnya yang disembelih untuknya pada hari ketujuhnya, lalu dicukur dan diberi nama.”

Ummu Kurz telah menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi SAW tentang aqiqah, maka beliau menjawab : “Untuk bayi laki-laki dua ekor kambing (yang sama besarnya), untuk bayi perempuan seekor kambing, baik kambing jantan maupun kambing betina, semua boleh, tidak menyulitkan kalian.”

Menurut para ulama, beberapa faidah aqiqah antara lain :

Sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas lahirnya sosok manusia muslim yang menyembah Allah SWT.

Mendekatkan diri kepada Allah SWT, melatih diri untuk bersikap pemurah dan mengalahkan kekikiran yang ada di dalam diri manusia.

Menyiarkan nasab bayi yang baru lahir sesuai dengan tuntunan syari’at Islam sekaligus mengubah tradisi (pesta) jahiliyah

Diriwayatkan dari Abdullah ibnu Buraidah yang telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hal berikut : “Dahulu pada masa jahiliyah apabila bayi seseorang diantara kami baru dilahirkan, kami menyembelih kambing dan melumurkan darah kambing itu ke kepala bayinya. Setelah Allah menurunkan agama Islam maka kami diperintahkan untuk menyembelih kambing dan mencukur rambutnya serta melumurinya dengan minyak zafaran,”

Demikianlah, aqiqah juga termasuk salah satu diantara perhatian dan kepedulian Nabi SAW yang sangat kepada anak-anak. Nabi SAW tidak membiarkan para ayah berbuat sesukanya karena terdorong oleh kecintaan mereka kepada anak-anaknya yang baru lahir, yang akhirnya mereka mengadakan berbagai upacara atas kelahiran anak-anaknya tanpa peduli meskipun upacaranya berasal dari tradisi jahiliyah.

Di Mata Anak Perempuan Ayah Lebih Asyik

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa anak perempuan cenderung lebih dekat dengan sang ayah. Normalkah ini?

Pada awalnya anak membentuk sistem relasi 2 orang (two person system), antara anak dengan ibu atau anak dengan ayah. Relasi ini lebih berfokus pada keinginan untuk selalu bersama, keinginan untuk selalu dilayani.

Anak belum memahami intrik, persaingan dalam berhubungan dengan orang tua. Ketika anak ingin berdekatan dengan ibu maka ia akan mendorong pergi ayahnya. Hal ini bukan karena ayah dianggap saingan, tapi lebih karena “saat ini aku mau sama ibu, tidak sama ayah”. Sebaliknya, ketika anak ingin dekat ayah, ia mungkin akan menolak ajakan dan rayuan ibu untuk menggendongnya.

Pada usia 30-48 bulan anak mulai membentuk sistem relasi segi tiga antara anak dengan kedua orang tuanya (triangular relationship-three person system). Anak mulai memperhatikan hubungan antara dirinya sendiri, ayah, dan ibunya. Pada saat ini,jika anak membutuhkan ibunya, maka ayah dianggap rivalnya dalam meraih perhatian ibu. Demikian juga sebaliknya.

Pada saat memasuki tahap sistem relasi segi tiga ini, perbedaan sikap ayah terhadap anak perempuan dan anak laki-laki akan sangat mempengaruhi bekerjanya sistem ini. Ayah biasanya jauh lebih lembut dalam bersikap dan bertutur kata dengan anak perempuannya. Ayah juga banyak mengalah pada tuntutan anak perempuannya. Sebaliknya, dengan anak laki-laki biasanya jauh lebih ‘kasar dan keras’.

Ibu terlalu banyak aturan

Biasanya aturan yang diterapkan ibu jauh lebih banyak dari ayah. Figur ibu menjadi sosok yang tidak menyenangkan, penuh peraturan dan terkadang menimbulkan rasa segan.

Sesekali ayah juga dengan gampang mengalah atau memberikan bantuan-bantuan kecil. Ayah merupakan orang yang mengasyikkan untuk ‘melawan’ segala aturan ibu. Ayah sering dianggap figur yang menyenangkan dan penuh kehangatan bagi anak perempuannnya. Oleh karena itu, kedekatan anak perempuan dan ayahnya akan menjadi lebih intens pada akhirnya. Sebaliknya kedekatan dengan ibu semakin berkurang.

Apakah tidak menimbulkan masalah?

Anak dekat dengan siapapun sebenarnya tidak masalah, namun yang penting ayah dan ibu sebaiknya bersikap konsisten dalam menerapkan disiplin. Bila tidak, akan membuat salah satu pihak menjadi pribadi yang ‘tidak menyenangkan’ bagi anak. Jadi, tidak ada lagi istilah anak mama atau anak papa.

Tentang farrasbiyan

Hangudi Paseduluran Lumantar Blog
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s