Transfer Ilmu

Oleh Halimah

“Sesungguhnya amal itu sesuai dengan niatnya.” Hadits ini merupakan sebuah peringatan penting yang harus dipegang dengan erat, agar setiap aktifitas kita dalam kehidupan yang serba “berbasis materi” dapat kita lalui dengan selamat. Tapi masalahnya, walaupun hadits itu sudah hapal di keluar kepala, tapi penerapannya kadang sangat susah untuk dilaksanakan. Apalagi kalau menyangkut untung-rugi. Kadang wilayah “ikhlas” menjadi terabaikan, atau dapat dikatakan terlupakan.

Saat ini, saat saya sedang berusaha agar bisa sukses pada sebuah jaringan MLM. Kemauan yang kuat dan keinginan untuk dapat berkembang, membuat saya mengalami gejolak yang lumayan berat. Tempat ini membuat kita harus berlomba dengan sekuat daya, agar kita dapat “memengaruhi” orang lain untuk masuk ke jaringan kita. Tentu hitung-hitungan yang akan kita dapat akan sesuai hasil usaha kita. Bila banyak merekrut orang lain, dan bisa membinanya agar mereka bisa menarik orang lain pula, maka jaringan kita bisa dikatakan sukses. Begitu seterusnya.

Pembinaan jaringan tentu dengan sebuah ilmu, dan didalamnya harus ada sebuah transfer ilmu. Semua ilmu yang kita punya tentang apa dan bagaimana pemanfaat produk yang kita pasarkan, tentu harus diketahui oleh downline kita. Proses transfer ilmu sesungguhnya sebuah perbuatan mulia. Bukankah bila kita memberikan ilmu bermanfaat kepada orang lain dan kemudian orang lain pun membaginya kepada orang lain, maka ilmu itu merupakan amal jariyah bagi kita. Tentu transfer ilmu tersebut dapat dikatakan sebuah amal jariyah bila didasarkan dengan niat karena Allah Swt. Tapi apakah itu yang terjadi?

Rasanya semangat berbagi memang menggelora di dalam dada. Usaha untuk membuat orang lain bisa seperti apa yang kita ketahui, membuat dada sedikit membuncah. Perasaan senang, karena orang yang kita transfer ilmu itu pun gembira dengan bertambah ilmunya. Semangat saling membagi membuat kita selalu berkomunikasi tentang apa saja yang ingin kita ketahui, Saling berbagi ilmu memang sangat indah. Karena dengan berbagi itu lah perasaan lebih dekat pada kawan akan lebih terasa “mewangi”.

Tapi apakah saya bisa memastikan, bahwa tranfer ilmu dilakukan dengan ikhlas? Bukan karena ingin banyak materi? Karena ukuran kesuksesan kita, adalah bagaimana bisa membuat jaringan di bawah kita lebih banyak dan lebih berbobot. Hingga saya sering kali terdiam dan merenung, “sudah benarkah niatku ini?” Apakah bukan karena ingin mendapat “materi” yang lebih banyak dengan membagi ilmu ini? Atau kah memang hanya menginginkan peningkatan jumlah jaringan ku? Ilmu ini memang sangat bermanfaat saya rasakan, dan membaginya pun karena ingin manfaat yang dirasakan bisa pula mereka rasakan. Tapi?

Sungguh susah! Susah membuat garis batas yang jelas dan jernih antara keikhlasan karena Allah dan keuntungan dunia. Padahal keuntungan dunia seharusnya mengiringi bukan menjadi tujuan utama, karena niat ikhlas dalam berbagi ilmu terhadap sesama. Bukankah orang yang berilmu derajatnya lebih tinggi di hadapan Allah Swt.?

Sengata, 24 April 2010

Halimah Taslima

Forum Lingkar Pena ( FLP ) Cab. Sengata

Tentang farrasbiyan

Hangudi Paseduluran Lumantar Blog
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s