MEMBACA SKENARIO TUHAN

Pengantar : Kajian ini mencoba menjelaskan peranan masing-masing entitas dalam tubuh manusia, dimana sesungguhnya harus dipahami sebagai kesatuan yang utuh. Kajian terpisah dimaksudkan agar dapat memberikan sebuah pemahaman yang total. Bagaimana perjalanan Jiwa dan Raga dalam peranan masing-masing. ?. Karena raga dalam pemahaman saya, di akhirat nanti hanya akan menjadi saksi atas perbuatan manusia. Raga berisi perintah dan program Tuhan atas peradaban manusia dilain pihak raga juga berada dalam tanggung jawab operasional Jiwa. Jiwa dapat bersifat bebas sekehendak dirinya namun begitu, disisi lain raga bukanlah entitas yang bebas, dia tunduk hanya kepada sunatulloh. Bukan tunduk kepada Jiwa itu sendiri. Sehingga mau tidak mau Jiwa harus menerima keadaan dirinya yang bebas terbatas. Posisi ini harus dalam keseimbangan. Allah memberikan posisi tawar kepada Jiwa agar Jiwa merasa puas dalam posisinya itu. Diberikannya fasilitas dan tingkat kepuasan dalam keadilan Tuhan yang sempurna. Namun, keputusan apapun bagi Jiwa apakah akan memilih kefasikan atau ketakwaan tidak akan mempengaruhi rencana Tuhan yang akan dijalankan oleh raga. Rencana membangun peradaban manusia yang luar biasa. Walohu’alam.

Yang dimuliakan.. (?)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (surah Al Hajj ayat 46)

Membaca~kemudian larut sudah mengembara, nafas tersengal perlahan dalam kontempelasi. Mengelana tak berbatas, menyusuri lorong-lorong dipermukaan bumi ini. Mengkais hikmah yang tersebunyi, diantara serpihan-serpihan mortir, diantara desingan peluru, diantara deru mesin-mesin pemburu nyawa manusia. Menitik air mata~lama tak membasah, karena kering bersama angin yang membawa anyir darah.

Manusia telah berperang~dari ribuan tahun yang lalu. Meleset hebat hingga kini, menyisakan tangis yang tidak pernah sepi di dunia .

Bukankankah tadinya kita satu umat?, membisik lirih, meneriakan gumpalan yang menyesak ke angkasa raya. Tak bersambut tak bersuara, langit berdiri dengan gagah perkasa, dengan keangkuhannya, “bacalah wahai manusia..!”.

Sebentar nafas mulai tertata~menyibakj rambut yang mulai basah, bersama hujan menapaki peradaban manusia. Peradaban manusia yang menoreh ingatan. Menghamparkan bukti nyata, mulai dari borobudur, piramida, tembok besar, dan masih banyak lainnya. Bukankah amat luar biasa, betapa tinggi akal budi manusia, membanggakan menyisakan keagungan luar biasa. Manusia bersuku-suku, menyebar ke seantero bumi, tiada sejengkal yang luput dari jamahnya. Bersaf, berkelompok, membangun komunitas raksasa, mengangkat derajat satu sama lainnya, jadilah seorang Raja diatas hamparan tanah yang berada dalam kuasanya. Terbentuklah perbatasan demi perbatasan antar kerajaan dan atau antar negara. Di dalamnya~antara semua Engkau sebarkan si Kaya dan si Miskin, berpangkat dan berjabatan, Engkau muliakan, Engkau hinakan diantara hamba-hamba- Mu, Engkau pergilirkan diantara semua itu.

Rasa takjub tak bersisa~ perkembangan teknologi muncul bak gelombang kejut menghentakan kesadaran manusia, pesawat terbang, komputer, kapal selam, robot, sekarang semua ada. Perkembangan ilmu pengetahuan muncul bak meteor ~ menguak rahasia-rahasia yang tiada menjadi ada, yang mustahil menjadi nyata ~mengabarkan alam semesta dan apa-apa yang ada didalam diri manusia. Mikro kosmos, makro kosmos, jagad raya, antar galaksi, telekomunikasi, ~kemudian waktu menjadi tak berbatas. Masih terus bergerak merambah kepada dunia partikel, dunia sub-atomik.~ quark dan neutronio, bahkan hinggg anti materi, menjelajah. Melesat bersama, pesawat supesonik membelah angkasa~waktu mulai berhimpit~menjadi tak sekedar hanya teori relativitas saja~peradaban akal budi manusia. Meliar dengan dasyatnya.!.

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu benar.Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” (QS. 41:53)

Ketakjuban~menekur lirih..maha besar,. maha besar, otak serasa berhenti, waktu berhenti, tak mampu ber-imajinasi, tak mampu sudah bersanding dengan semua..~ bertasbihlah Jiwa .. “Untuk apa Ya Allah…engkau adakan semua ini..? “. “Jikalau untuk kami manusia..(?) ..betapa dahsyat dan akbar.. perhelatan yang engkau hamparkan..”. ya..Allah…Allah.. !.

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan Roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama”

(Al Hijr ; 28-29).

Sungguh betapa Engkau perlakukan kami manusia dengan kepatutan yang sangat luar biasa. Atas kuasamu seluruh makhluk penghuni langit bersujud kepada . ~Kami manusia yang hanya terbuat dari tanah..!. Keluhan.. Lirih… berupa lengkingan Jiwa..dalam. ..sangat dalam..terpekur. ..nyaris sujud merata tanah..bagi Jiwa tak sanggup menyadari adanya. Betapa Allah telah memuliakan anak manusia dan telah memperlakukannya dengan sepantasnya. . (Lihat QS ; 017 ; 070).

Di abad 20 ini ~Kesadaran~mulai perlahan-lahan bangkit, memunguti kembali ingatan-ingatan yang tersebar saat terlempar tadi. Firman Allah menghantarkan kembali kepemahaman alam nyata :

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri…..”.:(QS; 41 ; 53)

Inikah semua, sekarang yang ada diabad ini, inikah janji-MU?.. tanda-tanda kekuasaan Engkau ya Allah..(?). Perdaban masa lalu yang terkubur di kedalaman bumi, engkau hamparkan kembali. Peninggalan arkeologi peradaban masa lalu. Bagaimana cerita umat terdahulu.. yang menentangmu. .(?). Engkau tunjukkan semua kekuasaan-MU kepada kami..pantaskah jika kami tidak bersyukur pada-Mu ya Allah..(?).

Tiba-tiba energi luar biasa menghentak, menggetarkan syaraf, neuron, dan semua atom-atom dalam tubuh, tiba-tiba mata menjadi nanar, menghablur.. ~menghablur sudah, ingatan melesat kemasa peradaban purba, perdaban dimana hanya tinggal satu dua manusia. Mengkais kesadaran kuno yang menjadi cikal bakal kesadaran dan kecerdasan pada abad 20 ini. Menarik cerita ketika adam di cipta. Mencari detail kecerdasan awal~bibit kecerdasan dan kesadaran yang ditanamkan sang Pencipta kepada manusia pertama.

Apalah artinya sebuah nama.. (?)

Ungkapan Shakespeare ini~sangat tak berlaku dalam teologi Islam. Setiap benda, setiap mahluk, ditandai dan dikode dengan nama. Nama memberikan arti atas hakekat sebuah benda ~dalam kesadaran manusia. Bila sebuah benda tidak diberikan kode (nama) maka benda tersebut tidak akan berada lama dalam kesadaran manusia. Manusia sebentar akan lupa. Maka hakekat benda menjadi tidak ada. Maka hilanglah keberadaan benda dialam semesta~dalam alam kesadaran manusia.

Kesadaran awal manusia adalah kesadaran keberadaannya melalui nama. Nama-nama benda yang tersebar, yang diajarkan Allah pertama kali kepada Adam. Inilah kecerdasan primitip pertama kali, yang disusupkan Allah kepada manusia pertama. Pengetahuan akan nama-nama benda ~diajarkan~disisipk an~diletakkan~ dalam diri manusia~yang mana telah mengalahkan seluruh mahluk di langit, bahkan kemudian atasnya ~ seluruh penghuni langit diperintahkan untuk bersujud kepada Adam.

“Dan Dia ajarkan kepada Adam semua nama-nama (benda) , kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat , seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar. ” (Al baqoroh ; 31).

Kecerdasan ini, ~nama benda yang diajarkan~adalah bibit yang ditanamkan dalam kesadaran manusia pertama. Kemudian manusia berkembang biak. Mengajarkan kembali kepada turunannya. Di mulai dari Habil dan Kabil, pengetahuan ini diturunkan. Menurun kepada generasi berikutnya. Setiap keturunan Adam yang sudah menikah, mencari tempatnya yang baru untuk membina rumah tangga sendiri, menyebarkan keturunan-keturunan nya, menempati seluruh pelosok-pelosok hingga ujung dunia yang memungkinkan ditinggali. Dari yang bersuhu ekstrem panas hingga yang bersuhu ekstrem dingin. Akhirnya mereka berkelompok- kelompok. Setiap kelompok mengajarkan nama benda, di tempat tinggal masing-masing sesuai dengan kondisi alam mereka. Dari nama benda terbentuklah susunan Kata Benda, dari kata benda ini, kemudian mereka men-sifatinya, maka terbentuklah Kata Sifat. Maka setiap kali disebut sebuah Kata Benda manusia saat itu, mampu mengimajinasikan pikirannya kepada Kata sifat-nya, sifat dari benda tersebut~dengan pen-sifat-an inilah manusia kemudian mampu ber-imajinasi~ meng-imajinasika n benda satu ke benda lainnya~memperbandi ngkan~mengasosia kan~masing- masing kelompok ber-imajinasi dengan caranya sendiri~yang kemudian juga diturunkan kepada generasi-generasi berikutnya.

Sementara itu~Seiring dengan kelompok yang semakin membesar,~ mereka membutuhkan kata bantu yang dapat mengkomunikasikan dalam rangkaian pekerjaan mereka dengan benda-benda tersebut. Maka munculah Kata Kerja, Dan untuk menunjuk siapa yang melakukan disusun kata bantu orang ; Kata Bantu Orang ke-satu,(Aku, Kami) , kedua (Kamu, Mereka) , ketiga (Dia, Kita), Kata-kata tersebut kemudian di rangkai mejadi susunan kalimat Subjek, Predikat, Objek. Menjadi kalimat yang sederhana. Asalkan cukup dimengerti antar mereka. Proses ajar mengajar, proses penyimpanan memory ini berlangsung beribu-ribu tahun. Sehingga semakin lama memory otak manusia semakin besar, file-file tersimpan di dalam otak-otak manusia yang tersebar di seantero dunia, di belahan-belahan benua, didokumentasikan dalam alam kesadaran kolektif mereka masing-masing. Setiap suku telah mendokumnetasikan didalam kesadaran anggota suku mereka masing-masing. Menceritakan dengan caranya masing-masing. Dan seterusnya.

Setelah manusia mampu menyusun kalimat~maka manusia mampu berkomunikasi dengan lebih baik~dan sebagian dari mereka, bahkan telah mampu menyusun menjadi sebuah paragraf. Yaitu suatu rangkaian kalimat yang mampu menceritakan ~menyampaikan suatu ide~yang mengusung suatu pemikiran penyampainya, baik melalui lisan maupun tulisan.

Ide-ide manusia biasanya muncul dari hasil pengamatan terhadap benda-benda. ~Asosiasi mereka dengan sifat bendanya memberikan mereka pemikiran-pemikiran , yang saling dikomunikasikan baik antar kelompok maupun lintas kelompok . Dengan itu ~Kemudian mereka mampu saling bertukar komunikasi. Ada yang penyaksi kemudian mengkabarkan, ada yang mengamati dan membuat suatu teori, dan lain sebagainya. Lalu lintas semakin lama semakin padat, sehingga banyak sekali manusia yang sudah tidak sempat menyaksikan sendiri kejadian yang diceritakan. Maka manusia kemudian berimajinasi~ menyesuaikan dengan file yang sudah ada terlebih dahulu dalam memory otak mereka. Dari sinilah awal manusia ber- PRESEPSI – dalam akal pikiran mereka sendiri. Yaitu asosiasi seseorang atau kelompok terhadap hal atau informasi yang mereka terima berdasarkan kesadaran kognitif mereka.

Hal ini berlangsung terus menerus sepanjang zaman, ~presepsi-presepsi ini, masih dipersepsikan lagi oleh kelompok-kelompok lainnya. Saking padatnya, akhirnya manusia kemudian berselisih tentang sesuatu hal ~atas sesuatu keyakinan~akibat informasi yang diterima telah dimanipulasi alam pikiran mereka ~melalui serangkaian persepsinya masing-masing. Presepsi manusia inilah yang turun temurun dipertahankan yang melahirkan perselisihan manusia. Presepsi di EKSPLOITASI habis-habisan, membutakan mata hati insan manusia di pelosok-pelosok bumi. Hingga mereka tidak mampu melihat kebenaran paling sederhana sekalipun di depan mata mereka. Kebenaran akan TUHAN.

“Allah befirman: “Turunlah kalian berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku itu, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka”. (Thoha : 123)

“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka ” (Ar rum ; 32`)

Demikian luar biasanya manusia, hanya dengan diajarkan nama benda~melahirkan persepsi~yang dengannya manusia saling berselisih`terpecah belah. Mengobarkan kebenaran masing-masing~ hawa perang~saling bunuh, mengorbankan jutaan nyawa manusia lainnya. Dari dahulu hingga kini. Perlahan lirih kembali membaca surah Al Hajj ; 46, yang disunting di awal kajian ini. Manusia tak mau berjalan dimuka bumi dan memperhatikan dengan kesadaran tanpa presepsi. Keadaan akal pikiran tanpa presepsi. Dengan kesadaran hati tanpa presepsi. Dengan hati yang tidak membuta.

Mohon STOP !. dahulu untuk men-zerokan pikiran kita sejenak.

Ketetapan Yang Mendahului.. (?)

Allah mengajari manusia~menanamkan kecerdasan awal~melalui pengajaran nama-nama benda. Manusia ber-improvisasi membentuk Kata Benda~Kata Sifat~Kata Kerja. Dilengkapi dengan Kata ganti pelaku. Kemudian manusia mulai mampu berkomunikasi dengan kalimat. Dengan kalimat-kalimat inilah manusia menyusun Ide~menyampaikan pemikiran-pemikiran nya. Komunikasi ini begitu padat~hingga hadirlah PRESEPSI-PRESEPSI , sebagai bentuk wujud pikiran dalam meng-asosiasikan sesuatu~yang tumbuh di dalam kesadaran kelompok per kelompok, Atas suatu hal~atas sebuah informasi~atas sebuah kebenaran. Hal ini berlaku menyeluruh dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari suku ke suku lainnya, dari kelompok ke kelompok lainnya~melintasi ruang dan waktu, menyebarangi lautan, ke pelosok-pelosok terujung bumi yang ditinggali manusia. Setiap kelompok kemudian mulai mem-posisikan diri mereka ~mem-presepsikan dengan cara mereka~yang diajarkan dari nenek moyang~kepada generasi penerusnya semua hal~termasuk juga presepsi tetang Tuhan. Presepsi ini selanjutnya mampu mengelompok, mengkerucut, ~menimbulkan perselisihan antar kelompok dan antar umat di sepanjang umur bumi.

Dengan kemampuannya membangun presepsi ini~manusia mengembangkan logika-logika berfikirnya. Logika berfikir melahirkan filsafat-filsafat ilmu. Yang berkembang pesat sejak era yunani kuno, muncullah nama-nama seperti Socrates misalnya, dan lain sebagainya. Sebagian manusia kemudian mengembangkannya lagi menjadi proses berfikir ilmiah. Dengan cara ini, mulai di standarisasi dalam methode logika berfikir manusia. Yang kemudian di kenal dengan Methode Berfikir Ilmiah. Methode ini melakukan pengamatan terhadap hal, kejadian-kejadian yang ber ulang-ulang, didata dan didokumentasi, (empiris) dan diamati kemudian dicarikan polanya. Inilah proses kognitif manusia dalam berfikir. Pola ini menghasilkan teori-teori. Teori-teori inilah yang senantiasa diperdebatkan. Maka pada jaman ini mulai perkembanganlah era Ilmu Pengetahuan. Namun kelompok ini, terlalu mengagungkan kemampuan panca indera dalm melakukan pengamatan-pengamat annya, sehingga menolak hal-hal yang tidak mampu ditengkap panca indera.

Pada kelompok lain~ pengembangan presepsi, memiliki implikasi lain~ menimbulkan kerancuan dan kekacauan dalam proses berfikir manusia. Kerangka acuan yang abstrak dan tidak ter-standart mengakibatkan sulitnya manusia mendokumentasikanny a. Banyaknya imajinasi-imajinasi masuk ke dalam ranah berfikir mereka. Sehingga melahirkan kelompok-kelompok yang terlalu meyakini kepercayaan dengan membuta, terlalu yakin dengan informasi dari nenek moyang mereka tanpa ada upaya menguji kembali.

Persepsi pada dua kelompok ini telah sama-sama menghijab mereka dalam menerima kebenaran dari Tuhannya. Kelompok-kelompok ini kemudian saling berselisih. Sebagaimana firman Allah;

“Dan Manusia dahulunya satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau saja tidak karena suatu kalimat (ketetapan) yang telah mendahului (mendasari) dari Tuhanmu, sungguh telah diputuskan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan di bumi. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan itu” (Yunus : 19 ).

Sungguh menjadi sebuah wacana menarik untuk dikaji. Ketetapan seperti apakah yang mendasari~skenario apa yang sedang dihamparkan. Allah tidak memutuskan~Allah tidak mengadili perselisihan manusia di bumi. Dibiarkan manusia membaca ayat-ayatnya yang tersirat maupun yang tersurat. Manusia dipersilahkan mengungkap, memperhatikan dan mengamati fakta-fakta yang terhanpar diseluruh permukaan bumi. Bukankah sudah diceritakan bagaimana umat-umat terdahulu. (?). Manusia~sekarang~ dengan adanya teknologi informasi~dapat mengetahui semua kejadian dipermukaan bumi yang lain dengan sangat cepatnya. Jika sisa-sisa perdaban masa lalu sudah mampu dikuak, kebenaran al qur’an sedikit demi sedikit terungkap dan tersingkap. Mungkinkah manusia yang berakal mampu berfikir..?.

Seiring dengan perkembangan kecerdasan yang mengalami perkembangannya~ Allah membiarkan improvisasi Jiwa melebar, meliar,~dibiarkanny a menggentarkan langit~bagaimana langit tidak bergetar. Dahulu~seluruh mahluk langit pernah telah bersujud kepadanya. Lantas kalau setelahnya ~kemudian manusia melewati batas~(?). Kemudian bagaimana (?). Bukankah telah terjadi percakapan antar penghuni langit dengan Tuhan-nya.

“……..Mereka berkata ” Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana. Sedangkan kami bertasbih memuji -Mu, dan memuliakan Nama-Mu….. ….” (Al baqoroh ; 30).

Sungguh telah terjadi keangkara murkaan dimuka bumi oleh ulah manusia. Telah nampak di darat dan dilautan. Kemudian~ketika sudah semakin mengkhawatirkan ~Allah mengutus Rosulnya ke pelosok pelosok bumi. Kepada umat-umat yang sudah melampaui batas itu~dalam mengumbar PRESEPSI mereka. Allah menginginkan Jiwa tetap dalam keadaan suci~maka Allah menurunkan rosulnya. Memberikan pengajaran dan peringatan~panduan agar manusia senantiasa mensucikan dirinya~sebagaimana fitrahnya.

Dalam dimensi lain. Allah telah menetapkan putusannya~atas rencana Allah. Persepsi-persepsi yang bermanfaat terus di jaga dipertahankan. Di tumbuh kembangkan diantara peradaban manusia. Didalam Raga ~telah disusupkan informasi genetika, yang menjaga agar kecerdasan manusia tetap terjaga. Kecerdasan tersebut akan dilahirkan dimana..?. Kecerdasan itu akan ~disisipkan terus Kepada umat yang senantiasa berfikir tentang alam semesta, kepada suatu kaum yang senantiasa menjaga kecerdasan mereka , kepada kaum yang senantiasa mengajarkan dan belajar serta berfikir tentang benda-benda. (sebagaimana Adam)~tentang ilmu pengetahuan. Tidak peduli itu kaum yang kafir atau beriman. Disitulah kemudian raga-raga yang dibekali dengan instrumen pelengkap untuk keperluan pengembangan peradaban yang lebih tinggi dilahirkan satu per satu, melalui perantara rahim-rahim orang-orang tersebut. Bila saat ini, kecenderung ilmu pengetahuan berada di tangan kaum non muslin maka senantiasa Allah akan terus menerus melahirkan raga yang memiliki kemampuan itu , di sekeliling mereka. Maka semakin lama, kelompok mereka semakin kuat dan maju. Karena raga ini~dalam perkembangan dan pertumbuhan perlu mendapatkan informasi dari komunitas ini, agar raga ini dapat berkreasi dengan maksimal~menghasilk an ilmu pengetahuan terbarukan lagi.

Maka bila umat muslim menginginkan agar Allah menurunkan , memberikan raga yang memiliki kemampuan seperti ini, maka umat Islam harus mampu menciptakan situasi yang kondusif untuk pertumbuh kembangan raga-raga ini. Sudah siapkah..?.

Kepada Raga yang pasrah ~Allah menitipkan kecerdasan itu~Allah pula yang menjaga dan menyempurnakannya~ akan tetap seperti itu adanya. Maka ketika umat muslim mengabaikan kesadaran moyangnya (Adam)~tentang kecerdasan awal~saat ketika manusia pertama diajari nama-nama benda. Sunatulloh berlaku atas umat Islam. Allah tidak akan menitipkan raga yang sudah dilengkapai dengan instrumen untuk keperluan tersebut diantara umat Islam. Sungguh raga tidaklah memilih dari mana dia harus dilahirkan, dia akan tunduk kepada perintah Tuhannya.

Untuk mengembangkan potensi raga, yang mampu membangun peradaban yang tinggi, manusia harus memiliki kecerdasan kolektif yang tinggi di dalam komunitasnya. Bila kondisi ini tidak dapat dipenuhi maka setiap kelahiran raga akan percumah, sebab tidak akan mampu bertumbuh secara optimal dikarenakan tidak adanya infrastruktur yang mendukung pertumbuhannya. Maka bila menginginkan adanya perubahan~ Sebelumnya kelompok ini harus berubah terlebih dahulu ~ merubah kecerdasan kolektif mereka, dalam komunitas tersebut , sehingga kondusif untuk perkembangan raga-raga yang akan dilahirkan dalam kelompok ini. Hal ini penting sebab~

jika tidak berubah maka Allah tidak akan menurunkan raga-raga yang memiliki potensi lebih kepada komunitas ini, untuk mengembangkan

peradaban mereka sesuai dengan keinginan mereka. Meskipun mereka bergama~karena ini memang sudah ditetapkan sebelumnya. Inilah peranan Jiwa yang memliki sifat bebas menentukan nasibnya, mau atau tidak Jiwa dalam raga ini berubah~merubah kondisi komunitas mereka. Sebagaimana firman Allah ; “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan(nasib) suatu bangsa sehingga bangsa itu mau merubah keadaan (nasib) mereka sendiri” (Ar-Ra’d-11)

Kecerdasan tetap sebagaimana adanya~terjaga pada umat lainnya. Tetap di pergilirkan antar umat dan generasi. Hingga sampai kini. Bila kini kemudian kita memperhatikan perkembangan jaman terkini~imajinasi kita terpana. Begitukah skenario Allah dalam mempertahankan kecerdasan yang dititipkan kepada manusia ?. ~dan ketika sekaligus juga menyempurnakannya ?,~ dari satu umat ke umat lainnya, dari generasi ke generasi berikutnya. Telah kita lihat~Bagaimana manusia membangun dan menyusun peradaban manusia. Hingga sampai saat ini abad ke 20 ini. Di Abad teknologi cyber.

Kita kemudian menjadi paham ; Saat manusia mampu menciptakan pesawat~yang mampu terbang sebagaimana burung. Saat manusia Manusia mampu Menciptakan kapal~yang menyelam sebagaimana ikan. Menciptakan mobil~yang mampu berlari mengalahkan kuda. Menciptakan telepon, komputer, televisi, dan lain-lain~yang mampu mendekatkan jarak mereka seberapa dekat mereka mau.

Dengan kecerdasan awal yang diajarkan~hingga berkembang sampai saat ini~manusia benar-benar telah mengalahkan mahkluk lainnya. Ingatlah, saat Allah berfirman kepada mahkluk penghuni langit, menjawab kegalauan mereka akan manusia :

“……….Allah berfirman “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (Al baqoroh ; 30)

Begitulah raga menjadi utusan Tuhan-nya yang pasrah, yang membangun perdaban manusia, dari dulu hingga kini. Bagaimana dengan JIwa-jiwa yang menghuni di dalamnya. Jiwa yang menempati raga pejabat, raga pelacur, raga pengemis, raga bangsawan, raga para raja, raga ulama, raga orang yang dimuliakan, raga orang yang dihinakan dan sebagainya. Bagaimana pergulatan mereka (JIwa) disitu.?. Bagaimana raga-raga dimusnahkan karena ulah sang Jiwa. Dalam kajian saya, mengenai takdir sudah panjang lebar di paparkan peranan sang Jiwa yang memiliki potensi yang bebas ini.

Semua jiwa dimata Tuhan adalah sama, sebagaimana saat pertama ditiupkan ke dalam raga. Baik jiwa yang berada dalam rahim seorang kafir sekalipun. Jiwa-jiwa ini dalam perlindungan Tuhan-Nya, Tuhanlah yang menyempurnakan pertumbuh kembangnya. Hingga ke dalamnya disusupkan kefasikan dan ketakwaan. Allah sekali-kali tidaklah menghukum mereka sebelum datang peringatan dari Tuhan. Setelah mereka dewasa dan akalnya mampu membedakan kebaikan dan keburukan, Jiwa-jiwa tersebut harus mencari jalan kepada Tuhannya. Pada diri manusia telah dilengkapi dengan ‘bashiroh’ yang serba tahu, yang akan senantiasa memperingatkan jiwa. Yang akan membimbing manusia kembali ke jalan Tuhan. Maka beruntunglah orang yang mensucikan diri, yang mampu menerima petunjuk ‘bashiroh’ ini.

Sebagaimana Fir’aun di kisahkan, tubuhnya yang sempurna, kepandaiannya, dan semua instrumen raganya telah menghantarkan dia menjadi Raja, yang di takuti. Titahnya bak firman Tuhan. Bahkan akhirnya dia mendaulat diri sendiri sebagai Tuhan. Sungguh Jiwa Fir’aun tidak mampu membaca, dia mengaku bahwa Raga-nya berada dalam kekuasaannya. Jiwanya menjadi sombong. Tidak mau mendengarkan peringatan Rosul yang diutus atasnya. Fir’aun tidak mau mengerti bahwa Raga itu memang sudah dipersiapkan Allah untuk menjadi Raja, kebetulan saja Jiwa yang ada di Fir’aun yang disuruh untuk mendiaminya. Bukankah Jiwa hanya penyaksi saja..?. Inilah contoh Jiwa dengan kesombongannya.

Masih adalagi Jiwa yang berada dalam tubuh orang kaya maupun yang miskin. Betapa mereka sama saja, memohon agar diberikan dunia kepada mereka. Mereka terus berdoa memohon, meski mereka tahu yang mereka mintakan adalah sebuah keburukan;

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka ; yaitu kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud, kaum Ibrahim, peduduk madyan, dan (penduduk) negri yang telah musnah…… .” (A Thaubah ; 70).

“Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa” (Al Isra’ ; 11).

Peradaban manusia menyisakan misteri yang sulit dimengerti, disatu sisi menghasilkan peradaban manusia yang luar biasa lengkap dengan kemakmurannya. Diantara mereka terdapat juga si miskin dan si kaya. Si baik dan si jahat. Banyak juga yang berada diantara keduanya itu. Dibelahan bumi lain kelaparan , kemiskinan, perang saudara, kekeringan, banjir, bencana alam tak bosan-bosan melanda. Dimanakah Tuhan, mereka merintih… Masih di ramaikan lagi dengan peperangan antar agama. Dari kulit putih dengan kulit putih. Si putih dengan si hitam. Si Hitam dengan si hitam. Atau campuran semua itu. Sudah ribuan nyawa bahkan berjuta mati dengan perkasa membela Tuhan mereka. Timbul pertanyaan kepada siapa Tuhan memihak.?. Tanya yang tak mungkin terjawab tuntas, dari awalnya sebelum manusia di ciptakan.Tuhan tidak akan memberikan keputusannya di bumi. Silahkan manusia memikirkannya sendiri. Begitu egoisnyakah Tuhan ?. Eit tunggu dulu..

“…..Dan seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan- Nya) atas seluruh alam” (Al baqoroh ; 251).

Allah tidak menyukai keganasan dari satu kaum kepada kaum lainnya, meskipun salah satunya adalah muslim. Allah memiliki karunia kepada seluruh alam ini. Entah dia muslim entah dia kafir. Allah akan menjaga keseimbangan sesuai dengan rencana-Nya. Demikianlah keadilan Allah.

Sungguh ketika kita umat muslim, memahami ini~terpana, mungkin akan berada dalam ke takjubannya~ tak bertepi. Dan Telah Engkau perlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Mu, ya Allah. Peradaban yang dulu dan terkini dan Dari kelemahan kami sendiri. Subhanalloh

Kemudian lirih larut membaca “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (surah Al Hajj ayat 46). Menembus hati, tersadar, bahkan tak mampu kami berkata lagi..

Maka inikah ya Allah, makna janjiMu “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu benar.Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” (QS. 41:53)

Jiwa dan Penyempurnaannya. ..(?)

Kalau begitu bagaimana positioning Jiwa seharusnya.. ?.

Dalam tulisan saya ~Tersesat Oleh Takdir~ saya cukup dalam mengkupas masalah ini. (dalam pemahaman saya tentunya). Bahwa Alllah menginginkan agar kita dapat kembali kepadanya dalam keadaan Jiwa yang tenang. Dengan hati yang puas, lagi ridho dan di ridhoi-Nya. Dalam keadaan inilah, Jiwa diundang dengan mesra oleh Allah untuk bergabung dengan jemaah-jemaah- Nya, untuk mendiami surga-Nya.

Bukankah sangat menarik ,~ bukankah Allah benar-benar me-mulia-kan manusia. Allah mengharapkan agar kita puas di dunia, dengan hati yang ridho.. Puas berarti Jiwa mampu mengembangkan potensi diri-nya, dimana Jiwa telah melakukan negosisasi semaksimal mungkin, sesuai keinginannya atas perannya di dunia kepada Tuhan. Berikut juga fasilitas yang mungkin akan diberikan kepadanya.

Ridho berarti Jiwa menerima keputusan apapun yang sudah dipilihkan kepadanya, Jiwa diharapkan tidak bolak-balik, sebentar minta itu sebentar lagi minta ini, inilah ridho dalam dimensi ini, yang berarti juga Jiwa ikhlas dengan pemberian dari Tuhannya. Kondisi ini harus terus dipertahankan hingga saat Allah memanggil Jiwa tersebut.

Namun banyak kita jumpai, Jiwa-jiwa senantiasa tidak puas, apalagi ridho. Persepsi-persepsi yang dibuat manusia terdahulu hingga kini, telah meng-hijab mereka dari esensinya hidup itu sendiri. Mereka lupa bahwa mereka tidak dirugikan sedikitpun. Sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.” (QS. An Nisa’ [4] : 40)

Tidak ada seberat zarahpun manusia akan dirugikan. Janji Allah adalah pasti. Bagaimana kita memaknainya itulah yang menjadi problematika tersendiri. Manusia dibingungkan dengan logika-logikanya sendiri, manusia bermain dengan persepsi-persepsiny a sendiri. Jiwa sering mengembara sendiri dan raga beraktifitas sendiri juga. Persepsi ini membuat Jiwa tidak dapat fokus kepada raganya. Inilah masalah utama manusia. Jangankan untuk bersama raganya satu hari, 5 menit sekedar untuk melakukan sholat, sangat jarang Jiwa yang mampu melakukannya. Jiwa sekehendaknya, kecenderungannya meliar dan meliar terus, tanpa mau di kontrol. Jiwa ini semaunya sendiri dalam meng-interprestasik an, bahkan mem-presepsikan kepada Tuhan-pun dengan enaknya

Sendiri. ~ sebagaimana kebiasaan mereka atas benda.

Allah mengutus para rosul untuk memberikan pengajaran tentang ini, memberikan teladan nyata. Agar manusia dapat belajar langsung , melihat langsung, bagaimana methodologi penyucian Jiwa dilakukan, agar pottensi Jiwa tidak senantiasa meliar terus. Masing-masing rosul dan nabi diturunkan kepada kaumnya, sesuai dengan problematika di kaum tersebut. Setiap rosul mengajarkan Tauhid. Mengajarkan bahwa Tuhan adalah Dzat yang Esa, maka berfikirlah lurus kepada-Nya. Allah tempat semua mahluk bergantung, maka pasrahkanlah seluruh Jiwa dan Raga hanya kepada-Nya, Dia tidak beranak dan di peranakan. Dan tak ada sesuatupun yang menyerupainya. Maka dia bukanlah mahluk hidup sebagaimana makhluk yang ada di bumi ini, bukan juga sebagaimana materi atau anti materi yang ada dalam jagad raya ini. Dia tidak bisa dipersepsikan dan tidak usah dipersepsikan, karena dia maha suci. Maka , wahai Jiwa sebutlah Dzat yang maha suci ini, agar Jiwamu di sucikan-Nya agar tidak meliar, agar Jiwamu mampu mensucikan dirinya sendiri, sadarilah, dan Jiwamu jagalah selalu begitu, lepaskan atas persepsi-persepsi yang menghijab menuju Tuhanmu. Apa saja, patung, dewa, harta, benda, istri, anak, pekerjaan, handai tolan, kesenangan, kecintaan, keindahan, bahkan spiritual itu sendiri (misal; kebenaran semu), dan lain-lainnya.

Sungguh contoh teladan paripurna dalam hal ini adalah nabi Muhammad saw. Bagaimana entitas antimateri dan materi~ entitas Jiwa dan Raga, bersinergi menjadi sebuah entitas baru yang dinamakan manusia. Menampilkan sosok yang luar biasa kharismanya. Sosok yang mampu mematahkan hukum kekekalan energi dan relatifitas dalam wujudnya itu. Sinergi kedua entitas telah menghasilkan resultan gaya dalam tubuh yang luar biasa. Tubuh ini mampu diperjalankan dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya, dimana semua materi maupun anti materi akan hancur tak berbekas~tidak berwujud sama sekali. Dalam peristiwa Isroq mi’roj ~peristiwa itu diabadikan dalam al qur’an.

Inilah Jiwa yang telah disempurnakan Allah, kepada Jiwa seperti inilah kita mesti menteladaninya.

Masihkah manusia ragu ~akan hal ini. Betapa Jiwa yang disucikan, Jiwa yang mampu memasrahkan diri, melebur dalam totalitas. Keluar dari wilayah persepsi, keluar dari wilayah keasadaran semu, akan menghasilkan sinergi yang luar biasa. Manusia seakan memiliki tenaga yang tidak akan ada habisnya. Apalagi jika hanya sekedar mengarungi realita kehidupan ini. Maka , sungguh sholat akan membawamu kearah sana, bagi orang –orang yang berfikir. Walohu’alam.

Wassalam

Ghozali

Tentang farrasbiyan

Hangudi Paseduluran Lumantar Blog
Pos ini dipublikasikan di Artikel Islam. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s